Dinamika pasar keuangan dan komoditas global hingga domestik terus bergerak dinamis. Tren ini diwarnai oleh aksi pelepasan cadangan emas secara masif oleh bank sentral, pencairan dividen bernilai jumbo, hingga maraknya aksi korporasi berupa akumulasi dana asing dan strategi intervensi pasar melalui aksi pembelian kembali (buyback) saham oleh emiten papan atas.
Rusia Likuidasi 6,2 Ton Emas untuk Tutup Defisit Anggaran
Di panggung komoditas global, Bank Sentral Rusia (Bank of Russia) kembali memicu perhatian pasar setelah menjual 200.000 troy ounce atau setara 6,2 ton cadangan emasnya sepanjang September 2026. Penjualan ini mengikis total cadangan emas negara tersebut menjadi 72,8 juta troy ounce (2.264 ton), yang merupakan level terendah sejak akhir 2019.
Langkah ekstrem ini mencatatkan tren pengurangan cadangan logam mulia secara berkelanjutan terbesar di Rusia sejak krisis keuangan 1998. Sejak Desember 2025, Negeri Beruang Putih tercatat telah melikuidasi sekitar 62 ton emas demi mendanai defisit anggaran federal yang kian membengkak akibat tekanan geopolitik dan sanksi ekonomi.
GEMS Cairkan Dividen Interim US$ 200 Juta
Dari lantai bursa dalam negeri, emiten pertambangan batu bara milik Grup Sinar Mas, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), merampungkan pembagian dividen interim untuk tahun buku 2026 pada Kamis (22/10/2026). Total nilai dividen yang digelontorkan mencapai US$ 200 juta.
Pemegang saham yang berhak menerima alokasi dividen senilai US$ 0,034 atau setara Rp 611,93 per saham. Pembayaran ini mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia per 30 September 2026 yang berada di posisi Rp 17.996 per dolar AS.
Investor Asing Guyur Saham BBCA Rp 448 Miliar
Aktivitas perbankan kakap juga menunjukkan gairah tinggi. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi target utama pemborongan investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai beli bersih (net buy) mencapai Rp 448,09 miliar di pasar reguler.
Aliran dana besar tersebut mendorong harga saham BBCA menguat 1,4% ke level Rp 5.275. Di saat bersamaan, manajemen BCA mengumumkan perpanjangan periode buyback saham hingga 23 Oktober 2026 dari tenggat semula 21 Oktober 2026, sebagai bentuk fleksibilitas dalam menjaga stabilitas harga di pasar.
Peluang Dividen ADMR di Tengah Momen Diskonto
Sementara itu, tekanan jual yang menimpa emiten tambang afiliasi Garibaldi ‘Boy’ Thohir, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dinilai sebagian analis sudah melampaui batas wajar fundamentalnya. Koreksi tajam saham ADMR dipandang sebagai momentum akumulasi menarik bagi pemodal berjangka panjang.
Laporan riset Sucor Sekuritas menyoroti pemulihan arus kas bersih ADMR yang berbalik positif ke angka US$ 210 juta pada 2026 dari posisi minus US$ 615 juta. Arus kas diproyeksikan melonjak ke US$ 533 juta pada 2027, sehingga memberi ruang permodalan yang sangat kuat. Jika perseroan menetapkan rasio pembagian dividen (payout ratio) sebesar 50%, dividen per saham ADMR diperkirakan dapat menembus Rp 127 per saham pada 2027.
BRI Siapkan Rp 1 Triliun untuk Buyback Tahap II
Langkah strategis menjaga kepercayan investor juga diambil oleh perbankan pelat merah, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Perseroan mengumumkan rencana pelaksanaan aksi buyback saham tahap II tahun 2026 di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi.
Manajemen BRI telah menyiapkan dana maksimal Rp 1 triliun yang bersumber sepenuhnya dari kas internal. Perseroan memastikan total akumulasi saham simpanan (treasury stock) hasil aksi korporasi ini tidak akan melebihi batas maksimal 10% dari seluruh modal yang ditempatkan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post