Jembatan Masa Lalu dan Babak Baru Noise Yogyakarta
Ada keindahan tersendiri ketika sebuah band memilih untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan merawat jejak yang hampir terlupakan sebelum melangkah lebih jauh. Langkah sentimental inilah yang diambil oleh unit shoegaze asal Yogyakarta, Haszh. Lewat amunisi terbarunya berupa maxi-single bertajuk Somewhere Between, lima komplotan ini resmi melepas dua trek yang telah mengendap di dalam arsip mereka sejak tahun 2021.
Rilisan ini bukan sekadar manuver untuk mengosongkan tabungan materi lama demi menyambut album mendatang. Lebih dari itu, Somewhere Between adalah sebuah monumen emosional. Rilisan ini diposisikan sebagai bentuk penghormatan mendalam bagi Roby, mantan bassis yang turut meletakkan batu pertama dalam fondasi awal perjalanan kuintet ini.
Merawat Memori dan Mengarsip Jejak Esensial
Diperkuat oleh formasi Gusti Mas Amrizal Ramadhan (vokal/gitar), Muh. Slamet Triwijaya (gitar), Ardian Cahyo (bass), Rifky Setiawan Irba (drum), dan Iksan Wibisono (synthesizer), Haszh menegaskan pentingnya menyelesaikan sebuah babak sebelum membuka lembaran baru. Menuntaskan materi yang tersimpan selama tiga tahun menjadi cara mereka menghargai proses tumbuh bersama.
Amrizal mengungkapkan bahwa pelepasan dua lagu ini murni didasari oleh ikatan emosional dan rasa hormat terhadap sejarah internal band. “Kami hanya ingin menyelesaikan materi-materi lama yang mengendap, supaya bisa mempersiapkan rilisan baru lainnya sekaligus bentuk penghormatan kami sebagai teman kepada Roby yang mengawali band ini bersama,” ungkapnya mendalam.
DNA Alternatif: Dari Proyek Kampus Hingga Menemukan Identitas Musik
Kiprah Haszh bermula dari ruang-ruang akademis pada 2017, ketika Amrizal dan Rifky menginisiasi proyek ini sebagai eksperimen perkuliahan. Seiring waktu, bertemunya para personel lain menyuntikkan energi baru yang mengkristalkan karakter musikalitas mereka. Menariknya, eksplorasi estetika sound Haszh banyak terdistilasi dari pahlawan-pahlawan skena alternatif lokal.
Nama-nama seperti Barefood, kuintet post-hardcore/shoegaze Collapse lewat rilisan fenomena EP Grief, hingga unit indie rock Annie Hall diakui sebagai fondasi awal bertunasnya pilar musik Haszh. Kendati berawal dari upaya meniru akar musik para pendahulu tersebut, proses kreatif justru membawa mereka ke persimpangan yang unik. Sambil bersenda gurau, Amrizal mengakui bahwa pada akhirnya mereka malah menemukan warna distorsi dan tekstur dinamis mereka sendiri yang distingtif.
Merekam Ekosistem Kolektif dan Romantisme Skena Kota Gudeg
Sebagai bagian dari denyut nadi Yogyakarta, Haszh tidak tumbuh di ruang hampa. Mereka tumbuh dan mekar bersama geliat ekosistem independen lokal. Ruang-ruang gerilya seperti program Laidback Jrny besutan JRNY Records, pergerakan The Daily Spin x Kumpul Kerbau, hingga riuh rendah Komunitas Rungkad Yogyakarta (KRY) diakui menjadi wadah krusial bagi regenerasi talenta-talenta baru di sana.
Namun, ada satu romantisme skena yang selalu membayangi benak para personelnya, yakni kolektif gig legendaris Terror Weekend. Slamet menuturkan ada sedikit catatan ironis namun manis antara kancah tersebut dengan perjalanan bandnya. Panggung gig tersebut adalah kawah candradimuka tempat mereka menyerap energi band-band hebat lokal, namun saat pergerakan itu berada di puncak kejayaannya, Haszh justru belum resmi terbentuk.
Kini, lewat hadirnya Somewhere Between, Haszh berhasil menjembatani semua ironi, memori masa lalu, dan nostalgia skena tersebut menjadi sebentuk karya yang solid. Rilisan ini bukan hanya tentang merayakan masa lalu bersama kawan lama, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa mesin distorsi Haszh telah kembali panas dan siap menerjang babak baru yang lebih bising.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post