Melintasi Penyesalan Bersama Energetisme J-Pop ala Kanata
Katalog musik independen Tanah Air kembali kedatangan amunisi segar dari kawasan pinggiran Jakarta. Berasal dari Bintaro, unit pop-rock alternatif Kanata secara resmi menandai pijakan pertamanya di industri musik lewat debut single bertajuk “Endless Regret”. Enam sekawan yang digawangi oleh Aisyah “Chaca” (vokal), Fauzan (gitar), Akim (gitar), Jerico (bas), Zino (kibor), dan Ariel (drum) ini menawarkan narasi patah hati yang dibungkus dengan aransemen semi-energik berbalut estetika musik modern ala Negeri Sakura.
Alih-alih melantunkan ratapan bernuansa kelam dan mendayu-dayu, Kanata justru memilih pendekatan musikal yang cukup kontras. Lirik yang menguras emosi bertabrakan secara manis dengan denyut ritme yang dinamis. Elemen Japanese city pop dan pop-rock Jepang terasa mewarnai eksplorasi mereka, melahirkan sebuah trek yang tetap asyik untuk dinikmati sembari bergoyang tipis, meski pesan di dalamnya menyimpan luka yang cukup dalam.
Paradoks Harapan dan Penyesalan yang Tiada Akhir
Secara tematis, “Endless Regret” memotret dinamika hubungan dua insan yang gagal menyatu bukan karena takdir, melainkan karena ketakutan dan keraguan untuk melangkah. Ketika kesadaran itu akhirnya datang, waktu telah merenggut kesempatan yang ada. Chaca mengungkapkan bahwa narasi ini menekankan pada konsep penyesalan abadi—sebuah kondisi di mana semesta memberi ruang, namun ego dan ketakutan manusia justru menjadi penghalang utama.
Salah satu poin krusial dalam penulisan liriknya terletak pada penggalan “Another life we might”. Kalimat tersebut menjadi semacam paradoks; sebuah angan-angan yang secara rasional mustahil, namun tetap dihidupkan sebagai ruang pelarian agar dapat bersatu di dimensi atau kehidupan lain. Eksplorasi emosional inilah yang dipadukan oleh Zino dan kolega dengan referensi musik Jepang yang kental, menciptakan karakter sound yang cerah namun menyimpan impresi nostalgia dan melankolia pada saat bersamaan.
Langkah Awal Menuju Skena Live Jakarta Selatan
Lahir dan mengasah kreativitas di Bintaro tidak lantas membatasi ruang gerak Kanata untuk memperluas jangkauan pendengarnya. Pasca-rilisnya “Endless Regret”, kolektif ini memasang radar untuk segera menguji ketangguhan aransemen mereka di panggung-panggung independen yang lebih luas.
Ariel menyatakan bahwa Kanata membidik sejumlah ruang pertunjukan di kawasan Jakarta Selatan sebagai destinasi panggung mendatang, seperti Kios Ojo Keos, SWAG, hingga EH! Tunesday. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi mereka untuk memperkaya pengalaman jam terbang secara live, sekaligus membangun reputasi serta penetrasi pendengar di tengah riuhnya kancah musik alternatif saat ini.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post