MALANG TODAY – Tumbuh besar di bawah incaran agen biro penyelidik federal AS (FBI) menjadi realitas yang harus dijalani Zayd Ayers Dohrn sejak lahir. Alih-alih dihiasi karakter kartun, dinding kamarnya dipenuhi foto pahlawan revolusi dunia seperti Che Guevara dan Ho Chi Minh, menandai kehidupan masa kecil yang jauh dari kata normal.
Zayd merupakan anak dari Bernadine Dohrn dan Bill Ayers, pasangan pendiri kelompok radikal anti-perang Weather Underground. Kelompok yang aktif pada era 1970-an ini menargetkan gedung-gedung vital pemerintahan Amerika Serikat, termasuk Gedung Capitol dan Pentagon, melalui aksi pengeboman guna menyoroti ketidakadilan rasial serta penolakan terhadap Perang Vietnam.
“Bahkan ketika masih sangat kecil, mereka sudah mengajarkan saya pelajaran revolusioner. Saya diajari cara mengenali polisi yang menyamar di tengah kerumunan dan berbicara menggunakan kode melalui telepon. Bagi saya saat itu, rasanya seperti permainan,” ungkap Zayd.
Tumbuh dalam Pelarian dan Identitas Palsu
Sebagai anak dari buronan paling dicari di Amerika Serikat, Zayd menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah tempat dan menggunakan identitas palsu. Kehidupan tanpa dokumen resmi membuatnya tidak bisa mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak umum.
Kedua orang tua Zayd sebenarnya berasal dari keluarga kelas menengah kulit putih yang mapan. Sang ibu merupakan lulusan hukum Universitas Chicago yang terdorong menjadi militan usai terbunuhnya tokoh hak sipil Martin Luther King Jr. dan pemimpin Black Panther, Fred Hampton. Sementara sang ayah terdorong oleh gerakan penolakan wajib militer Perang Vietnam.
Kelompok ini memanfaatkan keistimewaan status sosial dan ras mereka untuk bergerak di ruang-ruang kekuasaan tanpa memicu kecurigaan. Para anggota perempuan kerap menyamar sebagai sekretaris untuk menanam bahan peledak di lokasi terpencil, seperti kamar mandi gedung pemerintahan.
Keintiman dengan aktivitas bawah tanah bahkan merambah ke momen yang seharusnya menjadi liburan keluarga. Zayd mengenang salah satu agenda berkemah yang dilakoni keluarganya ternyata bertujuan mengintai sebuah penjara federal menjelang rencana pelarian seorang aktivis.
Risiko Kekerasan dan Dilema Moral
Meskipun organisasi tersebut berupaya menghindari korban jiwa dengan menyampaikan peringatan sebelum ledakan dan mengatur waktu bom saat gedung kosong, tragedi tetap tak terelakkan. Sebelum Zayd lahir, sebuah insiden ledakan tak sengaja saat pembuatan bom pernah menewaskan tiga anggota kelompok tersebut.
“Saya tentu merasa khawatir. Saya memiliki teman-teman yang orang tuanya terbunuh atau dipenjara dalam waktu yang sangat lama,” tutur Zayd.
Sebagai orang dewasa dan seorang ayah, Zayd kerap merenungkan pilihan ekstrem orang tuanya. Ia membandingkan pola pikir kedua orang tuanya seperti sukarelawan militer yang meyakini sedang bertempur melawan ketidakadilan sistemik.
“Saya bangga pada mereka dalam banyak hal. Di saat mayoridad masyarakat bersikap acuh tak acuh, orang tua saya memilih untuk bertindak,” ujarnya. Namun, ia juga mengakui kesulitan jika harus menempatkan keluarganya sendiri dalam risiko bahaya yang sama demi perjuangan politik.
Penyerahan Diri dan Perubahan Strategi Perjuangan
Titik balik terjadi setelah kelahiran adik Zayd. Demi memberikan kehidupan yang stabil bagi anak-anaknya, Bernadine Dohrn akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri kepada pihak berwenang.
Sempat terhindar dari hukuman awal akibat kesalahan prosedur penyelidikan aparat, Bernadine kemudian tetap dijebloskan ke dalam penjara selama hampir satu tahun karena menolak bersaksi melawan rekan-rekan perjuangannya. Dalam kurun waktu tersebut, ayah Zayd mengambil alih peran mengasuh anak-anak di rumah.
Kini, di usia yang telah memasuki delapan dekade, kedua orang tua Zayd hidup sebagai kakek dan nenek. Kendati demikian, pandangan politik mereka tidak pernah luntur, melainkan bertransformasi ke jalur yang berbeda.
Usai keluar dari gerakan bawah tanah, sang ibu berarier sebagai profesor hukum yang mengelola klinik bantuan hukum bagi korban ketidakadilan sistem peradilan selama empat dekade. Sementara sang ayah mengabdikan diri sebagai profesor di bidang reformasi pendidikan publik. Metode perjuangan mereka mungkin telah berubah, namun komitmen terhadap garis politik radikal tetap bertahan.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post