MALANG TODAY – Dua lembaga survei terkemuka merilis hasil jajak pendapat terbaru terkait tingkat kepuasan kinerja dan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto. Namun, kedua riset tersebut menunjukkan temuan yang bertolak belakang. Pengamat politik menilai perbedaan ini sebagai hal yang lumrah dan mengimbau publik untuk menjadikannya sebagai bahan evaluasi dua tahun masa pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Survei yang dirilis oleh Parameter Politik Indonesia (PPI) mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo berada di angka 65,2%. Dalam simulasi elektabilitas, PPI menempatkan Prabowo di posisi teratas dengan 31,6% dukungan, mengungguli sejumlah tokoh politik nasional seperti Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, Gibran Rakabuming Raka, dan Ganjar Pranowo.
Sebaliknya, hasil riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan gambaran yang berbeda. SMRC mencatat tingkat kepuasan kinerja presiden hanya mencapai 44,5%. Dalam hal elektabilitas, posisi Prabowo merosot ke urutan ketiga dengan angka 9,8%, berada di bawah Dedi Mulyadi (35,5%) dan Anies Baswedan (10,3%). Hasil survei PPI sendiri sempat diunggah di situs resmi Sekretariat Kabinet, sementara temuan SMRC tidak ditampilkan.
Perbedaan Metodologi dan Waktu Sigi
Mengenai perbedaan hasil yang cukup signifikan tersebut, analis politik dari Universitas Padjadjaran, Firman Manan, menjelaskan bahwa variasi hasil riset opini publik dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis. Perbedaan waktu pengambilan data, rumusan pertanyaan, hingga metode penarikan sampel menjadi pemicu utama perbedaan angka akhir.
Sigi PPI berlangsung pada 26 September hingga 6 Oktober dengan melibatkan 1.200 responden. Riset ini menggunakan metode Multistage Random Sampling dengan margin of error sebesar 2,83% melalui model pertanyaan terbuka. Sementara itu, survei SMRC digelar pada 1–10 Oktober terhadap 1.213 responden menggunakan metode Stratified Multistage Random Sampling dengan margin of error 2,9% dan model pertanyaan semi-tertutup.
Firman menambahkan bahwa persepsi publik sangat dinamis dan mudah berubah tergantung pada isu yang berkembang saat survei dilakukan. Karena tidak adanya lembaga tunggal yang memverifikasi setiap riset, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dalam membandingkan metodologi yang digunakan oleh masing-masing lembaga.
Dinamika Politik dan Bahan Evaluasi Pemerintah
Sementara itu, analis komunikasi politik dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Ambang Priyonggo, menilai bahwa hasil survei yang bervariasi ini menandakan dinamika dukungan publik yang masih sangat cair. Sebagai incumbent, Prabowo memang memegang panggung utama, namun elektabilitasnya akan sangat bergantung pada efektivitas pelaksanaan program-program pemerintah.
Sejumlah program utama seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program kesejahteraan lainnya mendapat apresiasi dari sebagian masyarakat. Namun, berbagai kendala operasional, isu tata kelola, hingga kondisi makro ekonomi-politik tetap menjadi sorotan kritikal yang dapat memengaruhi persepsi publik jika tidak ditangani dengan tepat.
Para pengamat sepakat bahwa terlepas dari perbedaan angka yang disajikan PPI dan SMRC, kedua survei tersebut mengonfirmasi adanya kelompok masyarakat yang belum puas dengan kinerja pemerintahan saat ini. Data ini dinilai penting bagi pemerintah untuk memperbaiki implementasi kebijakan serta meningkatkan efektivitas komunikasi publik ke depan.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post