MALANG TODAY — Uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan kini mulai diterapkan di lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan model baru ini dapat diperluas hingga 5.000 dapur sebelum akhir tahun jika hasil evaluasi menunjukkan dampak positif. Langkah ini diambil guna mengatasi ancaman keracunan masal sekaligus memangkas jumlah makanan yang terbuang.
Berbeda dari metode sebelumnya yang menggunakan wadah ompreng, sistem prasmanan menghadirkan hidangan hangat yang disajikan langsung menggunakan wadah berbahan stainless steel. Pemerintah berharap perubahan mekanisme ini dapat memperpendek jarak waktu antara proses memasak dan konsumsi, sehingga kualitas makanan tetap terjaga saat disantap para siswa.
Langkah efisiensi ini bergulir di tengah sorotan tajam publik akibat rentetan kasus keracunan nasional. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat jumlah korban dugaan keracunan MBG telah menembus angka 50.000 orang sejak program diluncurkan pada Januari 2025.
Antusiasme Siswa dan Tantangan Logistik di Lapangan
Pelaksanaan uji coba prasmanan salah satunya berlangsung di SD Negeri Linggar 03, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Makanan diantar menggunakan termos khusus agar suhu tetap terjaga, sebelum disajikan oleh petugas dengan keterlibatan siswa sebagai pramusaji yang mengenakan alat pelindung diri lengkap.
Pihak sekolah melaporkan respons positif dari para murid. Suhu makanan yang tetap hangat membuat tingkat konsumsi siswa meningkat, sehingga sisa makanan yang terbuang berkurang signifikan. Selain itu, porsi makanan sengaja dilebihkan sekitar 3 hingga 5 persen untuk memfasilitasi siswa yang ingin menambah.
Meski demikian, pihak pengelola dapur SPPG mengakui sistem ini menghadapi kendala logistik yang cukup besar. Distribusi model prasmanan membutuhkan armada kendaraan dan personel yang jauh lebih banyak dibandingkan metode ompreng. Jika harus diterapkan secara menyeluruh ke puluhan sekolah pasokan, skema ini dinilai sulit dijangkau dari sisi operasional dapur sentral.
Uji Coba di Semarang dan Penyesuaian Jam Belajar
Pengalaman serupa terlihat di SDIT Al Kamilah, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebelum disajikan kepada para siswa, petugas terlebih dahulu melakukan prosedur pemeriksaan keamanan pangan terhadap seluruh menu.
Meskipun disambut antusias oleh para siswa karena makanan terasa lebih segar dan porsinya dapat disesuaikan, pihak sekolah mencatat adanya penambahan durasi waktu makan. Proses mengantre pada sistem prasmanan memakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit, lebih lama dibanding metode ompreng yang hanya butuh waktu 10 menit. Kondisi ini menuntut penyesuaian pada jam kegiatan belajar mengajar (KBM).
Kasus Keracunan Masih Terus Berulang
Langkah evaluasi penyajian oleh BGN dipicu oleh tingginya insiden gangguan kesehatan akibat konsumsi MBG. Sepanjang September saja, ribuan siswa di berbagai wilayah seperti Batang, Lombok Tengah, dan Sidoarjo dilaporkan mengalami keracunan.
Bahkan di tengah bergulirnya uji coba prasmanan, kasus baru masih terus bermunculan. Di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, sebanyak 144 siswa harus mendapatkan perawatan medis akibat gejala pusing dan mual setelah mengonsumsi makanan MBG. Sementara di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sebanyak 55 santri dilaporkan mengalami gejala serupa yang berujung pada penutupan sementara dapur penyedia.
Pakar Ingatkan Kualitas Sanitasi dan Pengawasan
Menanggapi perubahan skema ini, pakar keamanan pangan dari Universitas Padjadjaran, Souvia Rahimah, menegaskan bahwa perubahan cara saji tidak otomatis menyelesaikan risiko keracunan. Keamanan pangan sangat ditentukan oleh seluruh rantai proses, mulai dari kualitas bahan baku, teknik memasak, hingga standar sanitasi.
Sistem prasmanan justru meningkatkan interaksi langsung antara manusia, alat, dan makanan. Oleh karena itu, penerapan standar kebersihan, penggunaan alat pelindung diri, serta sertifikasi bagi penjamah makanan menjadi syarat mutlak yang tidak boleh diabaikan.
Sisi kritis lain disampaikan oleh JPPI. Perubahan ke sistem prasmanan dinilai berpotensi menyulitkan proses pengawasan dan audit porsi makanan di lapangan dibandingkan sistem ompreng yang memiliki takaran terukur per individu. Transparansi dan akuntabilitas tata kelola di tingkat dapur penyedia tetap menjadi kunci utama agar keselamatan dan kesehatan anak didik dapat terjamin sepenuhnya.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post