MALANGTODAY.NET – Permainan tradisional lolorian, wahana papan luncur mirip roller coaster ala pedesaan, kini menjadi daya tarik utama di Kampung Ciherang, Desa Cihaurkuning, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Memanfaatkan jalur menurun sepanjang 200 meter dengan rel pelepah pohon aren, wahana tradisional ini tak hanya memikat warga lokal, tetapi juga sukses menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Salah seorang warga setempat, Hana, mengaku rutin memboyong keluarganya untuk meluncur di atas papan kayu aren tersebut. Para pemain cukup menduduki papan lori yang tersambung satu sama lain membentuk rangkaian gerbong, lalu meluncur memanfaatkan gaya gravitasi di kontur tanah perbukitan Ciherang.
“Hampir setiap hari ke sini karena seru,” ujar Hana.
Popularitas lolorian melambung drastis berkat paparan media sosial. Bahkan, media internasional dari Malaysia, Jepang, hingga Jerman turut mengulas keunikan wahana tradisional ini, yang berdampak pada meningkatnya kunjungan wisatawan asing ke Garut.
Sejarah dan Awal Mula Lolorian
Pakar permainan rakyat, Zaini Alif, menjelaskan bahwa lolorian berakar dari kreativitas anak-anak masa kolonial yang meniru operasional lori perkebunan dan kereta api. Istilah “lolorian” sendiri diserap dari kata lorrie dalam bahasa Belanda, yang berarti gerbong kecil di atas rel.
Pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, keberadaan rel lori Decauville di kawasan perkebunan Jawa menjadi pemandangan sehari-hari. Anak-anak desa kemudian mengadaptasi konsep tersebut menggunakan material alam di sekitar mereka tanpa mengandalkan mesin.
Di Kampung Ciherang, wahana ini berlokasi tepat di bawah jembatan rel kereta api peninggalan Staatsspoorwegen. Sesepuh kampung, Abah Koko (76), menceritakan bahwa permainan ini mulai intensif berkembang saat gelombang pengungsi era DI/TII bermukim di sana pada periode 1950–1962.
Abah Koko remaja kemudian memodifikasi rancangan rel menggunakan kayu dan bambu agar lebih kokoh dan aman. Awalnya, wahana ini dihidupkan kembali sebagai sarana ngabuburit anak-anak saat bulan Ramadan sekaligus upaya mengalihkan perhatian mereka dari gawai.
“Abah kalau tanya anak-anak sekarang tidak dijawab karena fokus main HP. Dengan adanya lolorian, sedikit-sedikit ada pengaruh positifnya,” kata Abah Koko. Kini, fasilitas tersebut dikelola warga menjadi destinasi wisata yang memberi dampak ekonomi bagi lingkungan setempat.
Solusi Edukatif Penekan Adiksi Gawai
Kehadiran lolorian menjadi alternatif nyata di tengah tingginya tingkat ketergantungan anak pada gawai. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat sebanyak 42 persen anak usia dini telah menggunakan telepon seluler. Selain itu, laporan Save The Children Indonesia menunjukkan 40 persen anak usia SMP menghabiskan waktu 3 hingga 6 jam per hari di depan layar, melampaui batas aman WHO yakni maksimal 2 jam.
Dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat, Lina Budiyanti, menegaskan bahwa penggunaan internet berlebihan berisiko memicu gangguan psikiatri dan penurunan fungsi sosial. Sebaliknya, permainan tradisional memberikan stimulus positif bagi kognitif dan mental anak.
“Permainan tradisional melatih problem solving, regulasi emosi, kesabaran, serta kemampuan berbagi. Dampaknya jauh lebih baik dibanding interaksi pasif dengan gawai,” jelas Lina.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, turut menekankan pentingnya ruang aktivitas fisik yang menarik bagi anak agar mereka terdorong lepas dari gawai. Sementara itu, Zaini Alif menambahkan bahwa kombinasi antara permainan tradisional dan digital dapat membentuk kognitif anak secara seimbang, baik secara sosial-fisik maupun kecakapan teknologi.
Mengubah Pola Bermain Anak Desa
Dampak keberadaan wahana ini dirasakan langsung oleh anak-anak Kampung Ciherang. Azka Firmansyah, seorang siswa sekolah dasar setempat, mengaku lebih memilih meluncur di rel aren dibanding bermain ponsel.
“Saya lebih suka main lolorian sama teman-teman, lebih seru sambil tertawa bersama,” ungkap Azka.
Orang tua murid seperti Hana pun merasakan manfaat serupa. Sejak rutin bermain di wahana tersebut, durasi penggunaan gawai anak-anaknya berkurang signifikan.
“Tentu lebih baik bermain lori karena melatih motorik dan ada aktivitas fisiknya,” pungkas Hana.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post