MALANG TODAY – Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan pelajar kian masif. Namun, maraknya penggunaan teknologi ini dalam kegiatan belajar memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis dan daya nalar siswa di Indonesia.
Kondisi ini tecermin dari pola belajar harian para siswa. Kebanyakan pelajar memanfaatkan fitur AI, seperti ringkasan otomatis pada mesin pencari atau aplikasi percakapan cerdas, untuk menyelesaikan tugas sekolah secara instan. Praktik instan ini dinilai berpotensi mengikis proses pemahaman materi secara mendalam jika tidak diimbangi dengan pendampingan ketat dari orang tua dan guru.
Hasil PISA 2025: Kemampuan Dasar Siswa Masih Menjadi Tantangan
Isu ketergantungan pada teknologi ini muncul di tengah catatan evaluasi pendidikan nasional. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025, performa siswa Indonesia di bidang sains dan membaca memang mengalami kenaikan, sementara bidang matematika mencatatkan penurunan tipis. Walau dinilai relatif stabil oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), capaian tersebut masih berada di bawah target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.
Data PISA 2025 menunjukkan bahwa mayoritas siswa usia 15 tahun di Indonesia masih berada di bawah Level 2, yang merupakan ambang batas kompetensi dasar. Rinciannya meliputi:
• Membaca: 73% siswa berada di bawah Level 2.
• Matematika: 83% siswa berada di bawah Level 2.
• Sains: 63% siswa berada di bawah Level 2.
Kondisi di bawah Level 2 mengindikasikan bahwa sebagian besar pelajar belum mampu menerapkan pengetahuan yang dimiliki secara konsisten untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari. Dalam literasi membaca, misalnya, mayoritas siswa baru sebatas mampu menemukan fakta eksplisit, namun masih kesulitan memahami makna tersirat maupun bersikap kritis terhadap informasi.
Resiko Ketergantungan AI Bagi Pelajar Usia Dini
Tingginya angka siswa yang belum mencapai kompetensi dasar membuat penggunaan AI dalam proses pembelajaran memerlukan pengawasan ekstra. Pemanfaatan AI secara tergesa-gesa tanpa fondasi nalar yang kuat dikhawatirkan dapat menjadi sarana mengalihdayakan proses berpikir kepada mesin.
Sejumlah pengamat dan peneliti pendidikan menilai bahwa bagi siswa jenjang SD dan SMP, fokus utama pembelajaran seharusnya dititikberatkan pada penguatan literasi dasar, numerasi, serta logika berpikir. Penggunaan AI yang tanpa panduan berisiko membuat siswa melompati proses penalaran penting saat menyelesaikan tugas sekolah.
Sejumlah studi neurologi juga menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk tugas-tugas generatif, seperti membuat esai secara instan, berpotensi menurunkan aktivitas otak yang berkaitan dengan kreativitas dan pemrosesan informasi, dibandingkan dengan proses belajar mandiri yang mengandalkan eksplorasi pemikiran sendiri.
Mendorong AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Pikiran
Pemerintah sendiri berencana memasukkan materi AI dan pemrograman (coding) dalam kurikulum bagi sekolah-sekolah yang siap. Namun, para ahli mengingatkan agar kebijakan ini difokuskan pada pemahaman konsep dan etika teknologi, bukannya mendorong ketergantungan.
Laporan PISA menggarisbawahi bahwa dampak AI terhadap prestasi sangat bergantung pada cara penggunaannya. Siswa yang menggunakan AI sekadar untuk menyalin atau membuat draf instan cenderung memiliki skor akademis lebih rendah. Sebaliknya, AI dapat memberikan dampak positif jika digunakan sebagai sarana diskusi, penguji pemahaman mandiri, atau pembuka wawasan baru oleh siswa yang sudah memiliki keterampilan berpikir kritis.
Guna menghadapi era digital, peningkatan mutu pendidikan diarahkan pada penguatan kapasitas guru, perbaikan mutu pembelajaran yang merata, serta pembentukan karakter siswa agar mampu mengevaluasi informasi secara mandiri. AI diharapkan hadir untuk memperluas cakrawala berpikir anak, bukan menggantikan fungsi nalar manusia.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post