MALANG TODAY – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bali selama sepekan terakhir. Kondisi ini melumpuhkan aktivitas ekonomi warga, memicu kepanikan, hingga memaksa sektor pendidikan menerapkan sistem kerja dari rumah (WFH) dan kuliah daring.
Antrean kendaraan mengular hingga lebih dari satu kilometer terlihat di Kawasan Denpasar, Badung, Gianyar, serta pusat pariwisata Kuta dan Seminyak. Bali menjadi wilayah terbaru yang terdampak gangguan pasokan BBM, melengkapi daftar daerah lain di Indonesia seperti Sumatra dan Makassar yang sebelumnya mengalami krisis serupa.
Dampak Luas: Pengemudi Ojol Menganggur hingga Kampus Daring
Dampak kelangkaan bahan bakar ini sangat dirasakan oleh pekerja sektor informal. Handoko, seorang pengemudi ojek dalam jaringan (ojol) di Bali, mengaku tidak dapat bekerja selama tiga hari berturut-turut karena tidak mendapatkan bensin.
“Saya bergantung sekali dengan BBM. Tiga hari tidak narik karena tidak ada bensin, rugi potensi pendapatan sekitar Rp900 ribu. Ini sudah parah sekali karena berlangsung berhari-hari tanpa kepastian,” ujar Handoko saat ditemui di SPBU Sunset Road, Kuta.
Kondisi serupa dialami Nyoman, seorang pekerja swasta yang harus mengantre lebih dari dua jam di SPBU Jalan Raya Kuta. Ia bahkan terpaksa membeli Pertamax karena kehabisan Pertalite demi bisa tetap berangkat bekerja.
Krisis pasokan BBM ini juga memaksa dunia pendidikan mengambil langkah darurat. Universitas Udayana memberlakukan perkuliahan secara daring dan WFH bagi karyawannya. Langkah ini diambil guna mengurangi beban mobilitas dan kebutuhan perjalanan rutin sivitas akademika selama krisis berlangsung.
Penjelasan Pertamina dan Pemerintah Provinsi Bali
Pemerintah Provinsi Bali dan PT Pertamina Patra Niaga membantah tuduhan bahwa kelangkaan disebabkan oleh kekosongan stok nasional atau pengalihan pasokan ke ajang MotoGP Mandalika. Pemprov Bali memastikan cadangan BBM di depo utama Manggis dan Sanggaran dalam kondisi aman.
Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan bahwa masalah utama terletak pada rantai distribusi dari depo menuju SPBU yang terhambat kemacetan lalu lintas, serta aksi pembeliaan berlebihan (panic buying) oleh masyarakat.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengonfirmasi adanya kendala teknis pada proses bongkar muat kapal tanker. Salah satu kapal pengangkut mengalami kesulitan saat menjatuhkan jangkar, sehingga jadwal distribusi yang semula direncanakan pagi hari bergeser hingga malam hari.
Untuk mengatasi persoalan ini, Pertamina telah mendatangkan kapal pengangkut tambahan berkapasitas 18.000 kiloliter Pertalite dan 2.500 kiloliter Pertamax, serta menjadwalkan pengiriman bertahap untuk menormalkan pasokan di Pulau Dewata.
Akar Masalah: Kesenjangan Kuota dan Logistik Nasional
Pengamat Energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai fenomena antrean BBM yang berulang di berbagai daerah—mulai dari Sumatra, Makassar, hingga Bali—menunjukkan adanya masalah fundamental pada tata kelola energi nasional.
Fabby membeberkan tiga faktor utama penyebab krisis BBM yang terus berulang:
1. Kesenjangan Kuota dan Konsumsi: Terdapat ketidaksesuaian (mismatch) antara kuota Pertalite yang ditetapkan BPH Migas dengan lonjakan konsumsi di lapangan. Disparitas harga yang mencapai Rp6.000 antara Pertalite dan Pertamax mendorong pengguna BBM non-subsidi beralih ke Pertalite.
2. Ketergantungan Impor dan Geopolitik Global: Indonesia masih mengimpor lebih dari separuh kebutuhan BBM nasional. Ketegangan geopolitik di kawasan produsen seperti Timur Tengah mengganggu rantai pasok dan memperlambat proses pengadaan pasokan pengganti.
3. Kerentanan Manajemen Logistik: Sistem pengadaan, armada kapal tanker, hingga rantai distribusi darat belum memiliki fleksibilitas yang cukup saat terjadi lonjakan permintaan secara mendadak.
Fabby mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi penetapan kuota BBM bersubsidi, memperbarui manajemen logistik, serta lebih transparan mengenai detail data cadangan BBM riil di lapangan agar solusi jangka panjang dapat segera diterapkan.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post