Krisis Sanitasi Pesantren: Kolaborasi Lintas Sektor Pacu Akses Air Bersih di Jawa Timur
Kualitas sanitasi dan ketersediaan air bersih di lingkungan pondok pesantren masih menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan berbasis asrama di Indonesia. Menjawab persoalan tersebut, ratusan perwakilan pesantren, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga lembaga keuangan berkumpul dalam Festival Akses Air Bersih dan Sanitasi Pesantren Jawa Timur yang digelar di Pesantren Ngalah, Kabupaten Pasuruan. Forum lintas sektor ini bertujuan merumuskan langkah strategis guna menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan higienis bagi para santri.
Isu kesenjangan sanitasi ini tergolong mendesak jika merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024. Meski akses sanitasi layak secara nasional telah mencapai 83,60 persen, masih terdapat sekitar 45,4 juta penduduk Indonesia yang belum menikmati fasilitas tersebut. Bahkan, baru sekitar 7 persen air limbah domestik di tanah air yang tercatat telah diolah secara aman sebelum dibuang ke lingkungan.
Data Mengungkap Kesenjangan Fasilitas di Lingkungan Pesantren
Kondisi di tingkat nasional mencerminkan realitas yang terjadi di lembaga pendidikan keagamaan. Hasil survei Serikat Ekonomi Pesantren pada 2024 terhadap 210 pesantren di Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur menunjukkan bahwa baru 54 persen pesantren yang memiliki akses air bersih layak. Sementara itu, ketersediaan fasilitas sanitasi yang tergolong memadai tercatat baru menyentuh angka 38 persen.
Melihat ketimpangan data tersebut, penanganan sanitasi di pesantren tidak bisa lagi hanya mengandalkan pembangunan fisik semata. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup skema pembiayaan berkelanjutan, tata kelola fasilitas yang profesional, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten bagi seluruh warga pesantren.
Inovasi Skema Pembiayaan dan Intervensi Sektor Swasta
Sektor swasta dan organisasi non-pemerintah mulai mengambil peran aktif untuk menjembatani keterbatasan infrastruktur ini. Danone Indonesia bersama Yayasan Sinergi Ekosistem Pesantren (SEP) dan Water.org memperkenalkan skema pembiayaan inovatif bernama WaterCredit. Pendekatan ini dirancang untuk membuka akses pendanaan inklusif agar pesantren mampu membangun dan mengelola sarana air bersih serta sanitasi secara mandiri.
Public Affairs & Sustainability Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, menegaskan pentingnya posisi strategis pesantren sebagai pusat pembentukan karakter masyarakat. Melalui program penyehatan lingkungan yang telah menjangkau lebih dari 500.000 jiwa di Indonesia ini, ia berharap kebiasaan hidup bersih yang terbangun di pesantren dapat ditularkan para santri ke lingkungan keluarga dan masyarakat luas.
Hal senada disampaikan Executive Director for Southeast Asia Water.org, Yuniar Restanto. Menurutnya, penyediaan air bersih dan sanitasi aman berdampak langsung pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat sekitar. Skema WaterCredit hadir untuk memastikan kendala finansial tidak lagi menjadi penghalang bagi lembaga pendidikan Islam dalam menghadirkan fasilitas kesehatan yang layak.
Keterlibatan Santri dan Dukungan Pemerintah Daerah
Festival bertajuk “Mengalirkan Kebaikan: Akses Air Bersih dan Sanitasi untuk Santri Indonesia” yang dihadiri sekitar 3.500 peserta ini tidak hanya diisi dengan pameran edukasi nutrisi dan keberlanjutan sumber daya air. Momen ini juga ditandai dengan pengukuhan Duta Santri BESTARI (Bersih, Sehat, Tangguh, dan Mandiri) yang diproyeksikan menjadi kader penggerak kebersihan di lingkungan asrama.
Langkah kolaboratif ini mendapat sambutan positif dari para tokoh agama dan pemangku kebijakan daerah. Ketua Dewan Pesantren Pasuruan, KH Tantowie Abdullah Siradj, mengapresiasi kemitraan multi-pihak ini sebagai komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas hidup santri. Dukungan senada diutarakan Wakil Bupati Pasuruan, KH Muhammad Shobih Asrori (Gus Shobih), yang menyatakan bahwa pemerintah daerah membutuhkan sinergi dengan berbagai elemen masyarakat untuk mengakselerasi pemenuhan fasilitas dasar di wilayahnya.
Dengan populasi pesantren yang mencapai lebih dari 34.000 lembaga di seluruh Indonesia, intervensi pada sektor air bersih dan sanitasi berbasis pesantren dinilai memiliki daya ungkit besar. Santri tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, tetapi ditransformasikan menjadi agen perubahan bagi budaya hidup sehat di tengah masyarakat.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post