SANAA — Kelompok Houthi di Yaman menyampaikan peringatan keras terkait potensi peningkatan serangan yang menyasar sejumlah infrastruktur vital di Arab Saudi, termasuk bandara dan pelabuhan laut. Peringatan ini muncul di tengah eskalasi pertempuran yang kian memanas di sepanjang pesisir strategis Laut Merah.
Ancaman tersebut disampaikan oleh anggota Biro Politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti. Ia menegaskan bahwa pihaknya memiliki kapasitas militer yang memadai untuk melumpuhkan operasional fasilitas transportasi dan energi milik Arab Saudi jika konfrontasi bersenjata terus berlanjut.
Dinamika Pertempuran di Pesisir Laut Merah
Eskalasi militer meningkat signifikan setelah pasukan pemerintah Yaman, yang didukung koalisi udara Arab Saudi, melancarkan ofensif berskala besar terhadap posisi Houthi di sekitar Selat Bab al-Mandab. Wilayah ini merupakan jalur pelayaran dunia yang sangat strategis karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Sebelumnya, Houthi berhasil memperluas kendali mereka di kawasan tersebut setelah menguasai wilayah Mocha dan Pulau Mayyun. Menanggapi pergerakan pasukan pemerintah yang sempat menembus garis pertahanan mereka, al-Bukhaiti mengklaim bahwa pergerakan maju lawan telah berhasil diredam.
“Memang sempat terjadi penerobosan, namun kami telah berhasil menutup celah tersebut,” ujar al-Bukhaiti.
Soroti Keterlibatan Pihak Asing
Selain memberikan gertakan kepada Arab Saudi, Houthi juga menyoroti keterlibatan negara luar dalam konflik ini. Sikap tegas ditunjukkan merespons pernyataan komitmen dari Turki dan Pakistan yang bersiap mengerahkan personel serta kemampuan militer ke Arab Saudi berdasarkan kerja sama Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah.
Al-Bukhaiti menegaskan bahwa Houthi akan menganggap bentuk dukungan militer apa pun, baik langsung maupun tidak langsung, sebagai bentuk partisipasi aktif dalam perang. Kelompok tersebut menyatakan siap melakukan tindakan balasan terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Kendati melontarkan berbagai ancaman serangan balasan, al-Bukhaiti menandaskan bahwa penghentian konflik dan deeskalasi tetap menjadi opsi terbaik yang menguntungkan bagi semua pihak, baik bagi Yaman maupun Arab Saudi.
Akar Konflik Berkepanjangan
Kondisi keamanan di Yaman terus memburuk sejak akhir 2014, saat kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara. Situasi tersebut memicu intervensi militer dari koalisi yang dipimpin Arab Saudi pada 2015 guna mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Hingga kini, perang saudara tersebut terus diwarnai oleh aksi saling serang, termasuk peluncuran rudal balistik dan nirkabrik oleh Houthi ke sasaran strategis di wilayah Arab Saudi, yang dibalas dengan serangan udara intensif ke benteng-benteng pertahanan Houthi di Yaman.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post