Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Rabu pagi. Mata uang Garuda melesat 33 poin atau sekitar 0,18 persen ke posisi Rp17.866 per dolar AS, bergerak naik dari level penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.899 per dolar AS.
Kendati menunjukkan tren positif, pergerakan rupiah diperkirakan masih berjalan dalam kisaran terbatas. Para pelaku pasar saat ini cenderung mengambil sikap mengamati situasi (wait and see) sembari menantikan sejumlah rilis data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun global.
Sentimen Cadangan Devisa dan Pertemuan The Fed
Fokus perhatian investor domestik tertuju pada laporan cadangan devisa (cadev) Indonesia periode terbaru. Posisi cadangan devisa nasional diproyeksikan berada di angka 144 miliar dolar AS, sedikit menurun jika dibandingkan dengan pencapaian akhir bulan sebelumnya yang mencatatkan angka 146,5 miliar dolar AS.
Sementara itu dari mancanegara, perhatian pasar tertuju pada rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve (The Fed). Dokumen ini dinanti guna memberikan gambaran serta petunjuk lebih jelas mengenai pandangan para pembuat kebijakan AS terkait arah suku bunga acuan dan penanganan risiko inflasi ke depan.
Peluang Kenaikan Suku Bunga AS Menurun
Berdasarkan pantauan indikator CME FedWatch, ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS pada pertemuan mendatang mengalami penurunan drastis dari 71 persen pada pekan lalu menjadi sekitar 24 persen.
Di sisi lain, pergerakan indeks dolar AS juga terpantau mengalami koreksi teknis akibat menguatnya mata uang Euro. Kombinasi faktor eksternal dan internal ini memproyeksikan pergerakan rupiah sepanjang hari akan berada pada rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post