Emiten minyak dan gas bumi (migas) Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) atau EMP, memproyeksikan laju pertumbuhan produksi migas rata-rata sebesar 10% per tahun dalam rentang lima tahun ke depan. Akselerasi kinerja operasional ini akan ditopang oleh optimalisasi aset eksisting serta dukungan dana segar hasil aksi korporasi pasar modal.
Wakil Direktur Utama EMP, Edoardus Ardianto, mengungkapkan bahwa untuk tahun 2026, perseroan membidik kenaikan produksi minyak sebesar 5%. Pertumbuhan tahap awal ini difokuskan pada sejumlah blok migas utama, seperti Blok Malacca, Siak, dan Blok Kampar.
Strategi Pertumbuhan Organik dan Komersialisasi Blok Aset
Mengenai segmen gas bumi, Edoardus menjelaskan bahwa volume produksi diperkirakan masih cenderung stabil (flat) dalam jangka pendek. Kendati demikian, perseroan tengah mematangkan langkah komersialisasi tambahan produksi di Blok Gebang yang ditargetkan mulai terealisasi pada semester I-2027.
Secara umum, kenaikan rata-rata produksi 10% per tahun selama lima tahun ke depan dipicu oleh program eksplorasi dan pengembangan pada portofolio aset yang sudah dimiliki (organic growth).
Saat ini, EMP mengelola 13 aset hulu migas. Sebanyak 12 aset berada di Indonesia dan satu aset berlokasi di Buzi, Mozambik, Afrika. Dari total portofolio tersebut, sembilan aset telah beroperasi secara komersial, sedangkan empat aset lainnya masih dalam tahap eksplorasi dan pengembangan, yakni:
- Aset migas Gebang di Sumatra Utara
- Aset migas South CPP di Riau
- Aset migas Bireun Sigli di Aceh
- Aset migas Buzi di Mozambik
Peluang Anorganik dan Alokasi Dana Rights Issue Rp4,11 Triliun
Di samping mengandalkan pertumbuhan organik, EMP tetap membuka ruang pertumbuhan anorganik melalui merger dan akuisisi (M&A). Perseroan membidik aset-aset migas domestik maupun internasional yang memiliki cadangan terbukti kuat, usia produktif panjang, serta mendukung arus kas secara berkelanjutan.
Guna memperkuat struktur permodalan dan mendanai rencana ekspansi tersebut, ENRG telah mengantongi pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV atau rights issue dengan target perolehan dana mencapai Rp4,11 triliun.
Manajemen menegaskan bahwa sekitar 90% dana hasil rights issue akan dialokasikan untuk belanja modal (capital expenditure/capex), sedangkan 10% sisanya untuk modal kerja (working capital). Porsi terbesar belanja modal bakal dikucurkan untuk tiga blok andalan, yaitu Blok Bentu (hampir 60%), serta Blok Malacca dan Blok Kangean (masing-masing 15%).

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post