Panggung busana kelas dunia kembali disuguhi kejutan puitis sekaligus revolusioner. Pada koleksi busana wanita Fendi Spring–Summer 2027, sang direktur kreatif menjadikan tubuh manusia sebagai pusat dari narasi utamanya. Koleksi ini hadir bukan sekadar rancangan busana biasa, melainkan sebuah manifesto kebebasan emosional serta titik temu yang harmonis antara maskulinitas dan femininitas.
Bagi sang desainer, Maria Grazia Chiuri, tubuh adalah titik awal dari segala kreasi. “Kita menggunakan fesyen karena, apa pun labelnya, kita selalu ingin mentransformasi tubuh kita,” ungkapnya. Mengambil inspirasi dari bait puitis karya E. E. Cummings—“I like my body when it is with your body”—pergelaran busana ini berupaya menangkap spirit zaman melalui pakaian yang dirancang layaknya lapisan kulit kedua: porus, fleksibel, dan menyatu sempurna dengan emosi kontemporer.
Ekstragavanza Lapisan Ringan dan Pesona Pakaian Dalam
Eksplorasi estetik koleksi ini berakar dari konsep underwear atau pakaian dalam yang dirancang melintasi batas gender, baik untuk pria maupun wanita. Hasilnya adalah sebuah studi mendalam tentang seni teknik penumpukan busana (layering) yang begitu ringan dan melayang. Siluet yang tercipta secara subtil mampu menyembunyikan sekaligus menyibak keindahan bentuk tubuh.
Pemanfaatan material renda transparan, sulaman detail yang rumit, serta aksen sisipan bahan diolah sedemikian rupa hingga tampil atraktif. Keseluruhan rancangan ini dibalut dalam sapuan palet warna yang kaya, menghidupkan kesan sensual namun tetap memancarkan keanggunan tingkat tinggi khas rumah mode Italia.
Nostalgia Pop 70-an: Simbol Pemberontakan dan Kebebasan Diri
Aura estetika pergelaran ini juga disuntikkan oleh nostalgia budaya pop Italia era 1970-an, era emas yang menjadi pilar penting dalam pembentukan DNA Fendi. Sosok mendiang Raffaella Carrà, ikon budaya pop global, diangkat sebagai acuan utama atas keberaniannya mendobrak aturan konvensional, meruntuhkan hierarki hasrat, serta menyuarakan independensi diri baik dalam kehidupan sehari-hari maupun lewat busana panggungnya yang legendaris.
Tak hanya Carrà, figur Adriano Celentano—pria pertama yang merepresentasikan sensualitas maskulin di Italia—juga menjadi referensi kunci. Kombinasi figur ikonik ini menyuarakan gagasan baru tentang kebebasan bertubuh. Maria Grazia Chiuri mendeskripsikan semangat ini sebagai bentuk pemberontakan yang akrab, sebuah cara pandang baru yang terasa begitu dekat dengan identitas budaya lokal.
Teater Cermin dan Energi Memikat dari Kota Roma
Tata panggung pergelaran SS27 ini menjelma menjadi instalasi seni eksperiensial yang memukau. Terinspirasi langsung dari karya seni kontemporer milik Luciano Fabro berjudul Cubo di specchi (Kubus Cermin), ruang pergelaran disulap menjadi “teater cermin” tempat para penonton diajak berefleksi dan melintasi batas visual antara diri sendiri dan orang lain. Suasana kian membara saat para penari membawakan koreografi energik diiringi lagu ikonik Adriano Celentano, Prisencolinensinainciusol.
Bagi Chiuri, konsep ruang ini membawanya kembali pada memori masa muda di lantai dansa. “Bagi generasi seperti saya, diskotek adalah ruang kebebasan dan tempat bertemunya berbagai karakter—tempat di mana Anda bisa berdansa dan merajut kembali koneksi antarmanusia,” tutur desainer kelahiran Roma tersebut. Kembalinya Chiuri menyerap energi kota kelahirannya telah memberikan pijakan budaya yang kuat serta napas segar dalam karya-karyanya.
Sensibilitas Punk-Borjuis Tanpa Batas Gender
Di atas panggung runway, konformitas dan stereotip gender diluluhkan secara total. Siluet busana mengalir fluid, memadukan proporsi dan panjang potongan yang bervariasi. Kontras material menjadi atraksi utama: dialog taktil yang mempertemukan tekstur kilau dan redup (glossy vs matt), kerapuhan kain tipis dengan bobot kain tebal, hingga kemewahan sutra yang disandingkan dengan motif leopard yang liar.
Potongan busana tampil metaforis sekaligus avant-garde, seperti jubah mandi (dressing gown) yang disulap menjadi busana luar (outerwear) yang modis, hingga paduan tak terduga antara kain beludru dan bahan perkamen. Sikap gaya bernuansa punk-bourgeois ini kian sempurna dengan kehadiran aksesori sepatu berhiaskan detail permata yang mewah.
Koleksi Fendi SS27 ini menjadi sebuah penawaran mode yang demokratis dan berdaya. Pria dan wanita berdiri sejajar dalam balutan busana yang merayakan kebebasan tubuh serta menolak segala bentuk batasan gaya hidup modern.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post