MADRID — Tragedi berdarah kembali mencoreng sistem transportasi rel berkecepatan tinggi di Spanyol. Sedikitnya 68 orang tewas dan 107 lainnya luka-luka setelah dua kereta cepat terlibat tabrakan hebat di jalur Madrid-Seville, tepatnya di wilayah Mora dan Orgaz, Provinsi Toledo, sekitar 140 kilometer di selatan Madrid pada Rabu (28/10/2026).
Insiden maut yang terjadi sekitar pukul 08.52 waktu setempat ini melibatkan kereta yang dioperasikan BUMN perkeretaapian Spanyol, Renfe, dan kereta milik operator swasta, Iryo. Benturan keras dalam kecepatan tinggi menyebabkan kehancuran masif pada rangkaian gerbong dan memicu duka mendalam di seluruh negeri.
Keluputan Manusia dan Kegagalan Sistem Sinyal
Tragedi bermula saat sistem persinyalan otomatis dan komputer jaringan mengalami gangguan mendadak. Kegagalan sistem keselamatan sepanjang 63 kilometer tersebut secara otomatis menghentikan seluruh perjalanan kereta di area terdampak, termasuk kereta Iryo berpenumpang 147 orang serta kereta Renfe yang membawa 397 penumpang di posisi 25 kilometer di belakangnya.
Namun, petaka terjadi ketika pengelola jaringan kereta api negara (ADIF) mengambil alih kendali secara manual. Meski indikator sinyal merah larangan melintas masih aktif dan kereta Iryo sedang berhenti di depan, operator justru memberikan izin melaju kepada kereta Renfe pada pukul 08.36.
Kereta Renfe yang dipacu hingga kecepatan 200 km/jam tak mampu menghindari hantaman telak ke bagian belakang kereta Iryo. Menteri Transportasi Spanyol, Óscar Puente, mengonfirmasi bahwa keputusasaan penanganan manual menjadi titik krusial penyebab kecelakaan.
“Terdapat sinyal merah yang melarang pergerakan, namun kereta justru diizinkan melaju. Ini adalah keputusan yang diambil dalam situasi yang tidak dapat dijelaskan,” tegas Puente, seraya menambahkan bahwa penyelidikan menyeluruh tengah berjalan.
Kesaksian Mencekam para Penyintas
Kerasnya tabrakan membuat sejumlah gerbong terlempar keluar jalur hingga terguling ke lereng di tepi rel. Serpihan baja dan potongan rel bahkan menembus badan gerbong, memicu kobaran api di salah satu bagian rangkaian.
Seorang penumpang kereta Iryo, Tangui Binier, menggambarkan kepanikan luar biasa saat insiden terjadi. “Sangat mengerikan benturannya, saya terlempar ke atas. Koper-koper beterbangan dan orang-orang berteriak,” tuturnya.
Kondisi tak kalah mencekam dialami penumpang kereta Renfe, Salvador Arriza (62). Ia mengungkapkan bagaimana para penyintas berjuang menyelamatkan diri di tengah kepungan puing dan korban yang terluka parah. “Para penumpang memecahkan jendela untuk menyelamatkan diri,” ungkap Arriza.
Dari total 68 korban jiwa, otoritas setempat merinci sebanyak 44 korban tewas berasal dari kereta Iryo dan 24 korban jiwa berada di kereta Renfe. Sementara itu, dari 107 korban luka yang dilarikan ke rumah sakit, 15 di antaranya dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Duka Nasional dan Komitmen Pengusutan Tuntas
Menanggapi bencana transportasi ini, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez Pérez-Castejón, langsung meninjau lokasi kejadian dan menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari terhitung mulai 29 hingga 31 Oktober 2026. Seluruh agenda politik dan kampanye pemilihan parlemen mendatang resmi ditangguhkan.
“Seluruh Spanyol sedang berduka. Banyak kehidupan yang hancur, keluarga yang tercerai-berai. Duka cita sangat mendalam,” ujar PM Sánchez di lokasi kejadian.
Sánchez menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas jajaran pihak yang bertanggung jawab. Insiden ini menjadi pukulan telak bagi industri perkeretaapian Spanyol, mengingat kecelakaan serupa baru saja terjadi di jalur dekat Cordoba pada Januari lalu yang merenggut 46 korban jiwa.
“Tidak dapat diterima bagi Spanyol mengalami dua kecelakaan kereta serius dalam satu tahun. Pihak berwenang akan mengambil tindakan tegas,” pungkas Sánchez.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post