Ubud, 24 Oktober 2026 – Greenpeace kembali meluncurkan dua buku anak bergambar yang mengangkat tema pentingnya menjaga dan memperjuangkan kelestarian alam. Peluncuran ini diselenggarakan dalam perhelatan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 pada Sabtu, 24 Oktober 2026 di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
Kedua buku itu bertajuk Luka Pulau-Pulau Kecil dan Rumah Kami Bukan Tanah Kosong yang berkolaborasi dengan penulis Titah AW dan ilustrator Sekar Bestari.
Luka Pulau-Pulau Kecil menceritakan kisah Pin, seorang anak Raja Ampat, yang menghabiskan hari-harinya di antara pulau-pulau kecil yang indah bersama orang tua dan sahabatnya Ruga si penyu belimbing, mendayung perahu, berenang di laut, dan menikmati alam yang penuh warna di sekitarnya. Suatu hari, sesuatu datang ke rumah Pin dan warna-warna itu mulai menghilang satu per satu dan bagaimana Pin menyelamatkan rumahnya.
Sementara itu, Rumah Kami Bukan Tanah Kosong mengajak anak menyelami kehidupan masyarakat yang bergantung dari hutan. Buku ini berbicara tentang seorang anak laki-laki bernama Yema yang dipercaya oleh kakeknya yang sedang sekarat untuk menjaga tujuh pohon raksasa di hutan adat dekat rumah mereka, pohon-pohon yang dipercaya membawa keberuntungan dan kehidupan bagi kampung mereka. Suatu hari, orang-orang asing datang naik tank dan buldoser, bertekad merobohkan pohon-pohon itu–dan upaya Yema menghentikan mereka.
Titah AW, penulis kedua buku ini mengatakan, “Cerita asli dari semua serial buku anak itu aslinya pahit dan sesuatu yang menyedihkan. Akan tetapi karena kami bicara ke generasi muda, kami ingin menghimpun solidaritas antar generasi dan berusaha menaruh sedikit harapan dari ceritanya. Ini menjadi ajakan untuk anak-anak, setelah membaca jadi bisa ikut bersuara atau setidaknya mereka mengerti dan kemudian membuka obrolan di lingkaran keluarga, atau pertemanan mereka masing-masing soal permasalahan ini.”
“Sasaran pembaca buku ini salah satunya adalah anak-anak yang hidup di wilayah urban. Menurutku, hubungan mereka dengan hutan hanya sebatas melihatnya sebagai latar belakang pemandangan. Aku merasa kalau sejak kecil sudah dikenalkan bahwa hutan itu juga organisme yang hidup, di dalamnya banyak makhluk, bahkan manusia, itu bisa membangun empati mereka juga yang akan dibawa ke masa depan,” ujar ilustrator asal Yogyakarta Sekar Bestari.
Proses kreatif pembuatan buku ini melalui serangkaian tahapan yang panjang, Titah dan Sekar mewawancarai orang-orang yang mengalami langsung peristiwa yang melatarbelakangi kedua cerita tersebut. Keduanya juga melakukan observasi langsung ke Raja Ampat dan Papua Selatan untuk mendalami konteks dan karakteristik setiap wilayah, sehingga ilustrasi yang dihasilkan dapat merepresentasikan tempat dan kehidupan masyarakat di dalamnya secara lebih akurat.
Dalam kedua buku tersebut, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Sekar Banjaran Aji menyoroti peran anak-anak dalam perjuangan menjaga hutan. “Anak-anak punya imajinasi sendiri tentang perlawanan yang mereka pelajari dari kakek, nenek, serta keluarga. Perlawanan tersebut tidak selalu besar dan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dengan begitu, perlawanan bisa lebih mengakar pada ruang hidup dan komunitas masing-masing. Sebab, hutan adalah ruang hidup bersama, mulai dari komunitas, lalu keluarga di dalam komunitas–yang anak-anak termasuk di dalamnya.”
Belgis Habiba, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia mengatakan buku cerita anak adalah salah satu medium yang penting bagi anak-anak untuk mengenalkan persoalan lingkungan yang dihadapi saat ini. Sebagai generasi yang akan hidup di masa depan, anak-anak perlu memahami apa yang terjadi pada lingkungan mereka. Melalui buku cerita anak, suara, pemikiran, dan harapan mereka dapat terdengar.
“Kami merasa bahwa hal-hal ini penting untuk diketahui oleh generasi mendatang, karena pembangunan dan industri ekstraktif yang merusak dapat berdampak pada keberlangsungan masa depan mereka. Mereka harus tahu apa yang dialami Bumi saat ini karena pertaruhannya adalah masa depan mereka,” ujarnya.
Peluncuran dua buku cerita anak adalah satu dari serangkaian agenda Greenpeace Indonesia di UWRF 2026, salah satu festival penulis dan pembaca terbesar di Asia. Selain peluncuran buku cerita anak, Greenpeace juga membawa suara dari Papua dengan menghadirkan Yosepina Sreklefat, perempuan dari Kampung Kwowok di Papua Barat Daya dalam panel A Feast of Stories dan Maria Guriti Amote dari Boven Digoel, Papua Selatan dalam panel Our History, Our Hands sebagai perwakilan Masyarakat Adat dalam melindungi hutan di Tanah Papua.
Selain itu, dua Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sekar Banjaran Aji dan Belgis Habiba juga turut berpartisipasi dalam sejumlah diskusi panel seperti Environment Vulnerability and Activism in Indonesia, Fast Forward Climate Edition dan pemutaran dokumenter Tutaha Subang: A Tale of My Daughter. [SELESAI]
Narahubung:
Lovenila Dewi, Greenpeace Indonesia, +62 89615445051

Greenpeace ada karena bumi yang rapuh ini butuh suara. Kami adalah organisasi lingkungan global yang didedikasikan untuk bersama-sama melindungi masa depan











Discussion about this post