Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan ekonomi kawasan melalui penyelenggaraan ASEAN Economic Symposium 2026. Forum bertajuk “Building Canada-ASEAN Economic Resilience and Accelerating Market Penetration” tersebut digelar di Telfer School of Management, University of Ottawa, Kanada, pada Senin (12/10/2026).
Inisiatif strategis ini digagas KBRI Ottawa dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite ASEAN di Ottawa (ASEAN Committee in Ottawa/ACO) untuk periode Semester II-2026. Penyelenggaraan simposium menggandeng sejumlah institusi terkemuka, meliputi York Centre for Asian Research (YCAR) melalui Canada-ASEAN Initiatives, Telfer School of Management University of Ottawa, serta Asia Pacific Foundation of Canada.
Agenda diplomasi ekonomi ini dihadiri sekitar 100 peserta dari lintas sektor, termasuk pejabat pemerintah, anggota parlemen, korps diplomatik, akademisi, pelaku usaha, hingga kalangan mahasiswa. Rangkaian acara diisi dengan keynote remarks, dua sesi diskusi panel, serta fireside chat yang menghadirkan pakar dan pemangku kepentingan kunci.
Urgensi Kemitraan ASEAN-Kanada di Tengah Tekanan Global
Duta Besar Republik Indonesia untuk Kanada, Muhsin Syihab, menekankan bahwa tema simposium ini sangat relevan dengan dinamika ekonomi dan geopolitik global yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, stabilitas rantai pasok dan sistem perdagangan internasional saat ini sedang menghadapi tantangan berat.
“Sistem perdagangan global dan rantai pasok tengah berada di bawah tekanan. Dalam situasi seperti ini, mitra yang meyakini perdagangan terbuka dan terprediksi akan semakin saling membutuhkan. ASEAN dan Kanada adalah mitra tersebut,” ujar Dubes Muhsin.
Ia memaparkan, nilai perdagangan barang dua arah antara Kanada dan ASEAN mencatatkan tren positif dengan mencapai 52,4 miliar dolar Kanada (sekitar Rp 662 triliun) pada tahun 2025. Angka ini melonjak hampir 24 persen dibandingkan periode tahun 2024. Kendati tumbuh signifikan, volume tersebut baru menyumbang sekitar 3 persen dari total perdagangan global Kanada, sehingga peluang ekspansi pasar masih terbuka sangat lebar.
Akselerasi Perjanjian Dagang Bebas ACAFTA
Untuk mengoptimalkan potensi yang ada, keberadaan ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA) dinilai sebagai instrumen kunci. Perjanjian ini menduduki posisi strategis karena akan menjadi pakta perdagangan bebas pertama ASEAN dengan mitra di kawasan Amerika Utara.
Saat ini, proses negosiasi ACAFTA tengah memasuki fase krusial menuju kesepakatan substansial (substantial conclusion) yang ditargetkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-49 pada November 2026 mendatang.
“Penandatanganan perjanjian hanyalah langkah awal. Pada akhirnya, nilai sebuah perjanjian ditentukan oleh implementasinya dan manfaat nyata yang dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat kita,” tegas Dubes Muhsin.
Dalam sesi diskusi panel, para panelis membedah sejumlah isu krusial yang perlu segera diselesaikan, seperti pembukaan akses pasar dan aturan penentuan asal barang (rules of origin). Selain itu, dibahas pula komitmen jangka panjang Kanada dalam mendiversifikasi mitra dagang utamanya.
Sejumlah sektor prioritas yang diproyeksikan menjadi pendorong utama kerja sama meliputi jasa keuangan, energi, mineral strategis, serta ketahanan pangan. Para peserta juga menggarisbawahi pentingnya eliminasi hambatan non-tarif, peningkatan kapasitas implementasi, harmonisasi standar produk, serta pengakuan kualifikasi tenaga kerja.
Sinergi Diplomasi Ekonomi dan Promosi Budaya
Selain menjadi pasar yang prospektif, ASEAN juga dipandang sebagai sumber investasi alternatif bagi Kanada. Penguatan hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact) dianggap senilai dengan pengurangan tarif guna memastikan para pelaku usaha dapat memanfaatkan kesepakatan dagang secara optimal.
Bagi Indonesia secara khusus, keberadaan ACAFTA diharapkan mampu berjalan berdampingan dan saling melengkapi dengan Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang bersifat bilateral, demi mendongkrak volume perdagangan dan investasi kedua negara.
Momentum simposium ini sekaligus dimanfaatkan untuk mempererat hubungan kebudayaan. Masing-masing perwakilan negara anggota ASEAN di Ottawa menyajikan kuliner khas nasionalnya. KBRI Ottawa secara khusus mempromosikan kekayaan seni kuliner Nusantara dengan menyajikan mi goreng Jawa, pastel ayam, serta kue talam ubi ungu sebagai hidangan penutup.
Rangkaian simposium ini menjadi bagian integral dari kepemimpinan Indonesia di ACO dalam memperkokoh Kemitraan Strategis ASEAN-Kanada, sekaligus menyambut peringatan 50 tahun hubungan kemitraan wicara kedua pihak yang akan jatuh pada tahun 2027.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post