Mempererat Hubungan Bilateral Lewat Festival Budaya dan Musik
Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kawasan Rumah Sarwono, Pejaten Timur, Jakarta, pada Jumat (19/9/2026). Sekitar 700 alumni perguruan tinggi Australia asal Indonesia berkumpul dalam festival bertajuk Gig on the Green. Perhelatan ini dirancang sebagai wadah reuni sekaligus simbol makin eratnya hubungan antarmasyarakat (people-to-people links) kedua negara tetangga tersebut.
Festival tahunan ini memadukan pertunjukan musik lintas negara, sajian kuliner khas Australia dan Indonesia, hingga ajang berbagi pengalaman antaralumni. Acara yang berlangsung santai tersebut tidak hanya menjadi momentum temu kangen, tetapi juga sarana untuk memperkuat jaringan kolaborasi strategis di berbagai bidang di masa depan.
Jangkar Utama Diplomasi Indonesia dan Australia
Penjabat Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Nicola Campion, menyampaikan apresiasinya terhadap soliditas komunitas lulusan Australia di Indonesia. Menurutnya, keberadaan lebih dari 200 ribu alumni merupakan aset berharga yang menjadi jangkar utama diplomasi serta jembatan penghubung kedua negara.
“Ketika saya melihat komunitas alumni Australia di Indonesia, saya merasa bangga melihat bagaimana komunitas ini terus tumbuh dan saling terhubung. Alumni berkontribusi membangun rasa saling pemahaman dan mendorong kolaborasi antara Australia dan Indonesia,” ujar Nicola Campion di sela-sela acara.
Kemeriahan festival makin terasa dengan penampilan panggung musik dari para seniman dua negara. Panggung Gig on the Green dimeriahkan oleh aksi musik alumni seperti Nathalie Ezmeralda, grup asal Australia TJAKA yang membawakan alunan instrumen tradisional Didgeridoo, hingga penampilan grup musik populer Indonesia, The Overtunes. Di area terbuka, para tamu menikmati hidangan khas Aussie Barbecue bersanding dengan jajanan Nusantara hasil olahan unit usaha para alumni.
Kisah Inspiratif Dedikasi Alumni Pendidikan Inklusif
Di balik kemeriahan acara, hadir pula kisah-kisah inspiratif dari para lulusan yang membawa perubahan positif bagi masyarakat. Salah satunya adalah Novi Indrastuti, penerima beasiswa Australia Awards lulusan Master of Education dari Murdoch University, Western Australia.
Berawal dari pengalamannya mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di Banjarnegara, Jawa Tengah, Novi terdorong mendalami pendidikan inklusif di Australia. Selama studi, ia tidak hanya menuntaskan akademiknya, tetapi juga memprakarsai proyek peer support untuk mendampingi mahasiswa disabilitas di kampusnya, yang kini telah berkembang menjadi organisasi resmi.
Sepulangnya ke Indonesia, Novi berkomitmen menerapkan ilmu yang didapat untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif. “Saya mencoba menjadi lebih sensitif terhadap variasi kebutuhan murid dan memastikan kelas menjadi ruang aman bagi mereka untuk menyampaikan kebutuhannya tanpa rasa takut,” tuturnya. Praktik baik ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai sekolah lain di Indonesia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post