Gema Bahasa Indonesia di Moskow: Menembus Batas Negara, Menyatukan Antarbangsa
Semangat Sumpah Pemuda kembali bergaung di panggung internasional. Tepat pada peringatan 98 tahun ikrar bahasa persatuan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moskow berkolaborasi dengan HSE University sukses menggelar Kongres Bahasa Indonesia ke-2 di Moskow, Rusia. Forum ilmiah yang mengusung tema “Bahasa Indonesia di Pentas Global: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan” ini diikuti sekitar 140 peserta dari berbagai kalangan akademisi, pengajar, mahasiswa, hingga Indonesianis asal Rusia dan Belarus.
Kegiatan yang berlangsung di kampus HSE University tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Atip Latipulhayat. Turut hadir dalam agenda strategis ini Duta Besar Republik Indonesia untuk Rusia, Jose Tavares, perwakilan Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa (Pustanda), jajaran pimpinan HSE University, perwakilan NIKA School, serta puluhan Indonesianis muda.
Akar Sejarah dan Lima Langkah Strategis KBRI Moskow
Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Jose Tavares, mengingatkan bahwa bahasa Indonesia bukanlah hal baru bagi masyarakat akademis di Rusia. Tradisi pengajaran bahasa Indonesia di Universitas Negeri Moskow bahkan telah dirintis sejak akhir era 1950-an. Saat ini, keberadaan bahasa Indonesia semakin kukuh di HSE University dengan menjadi salah satu dari dua bahasa Timur utama yang dipelajari secara intensif dalam kurikulum lima tahun.
Pelaksanaan kongres ke-2 ini merupakan rekam jejak berkesinambungan dari kongres pertama yang sukses dihelat pada 5 November 2025 di Perpustakaan Sastra Asing Rudomino. Dalam perannya memperluas daya jangkau bahasa nasional, KBRI Moskow konsisten menjalankan lima langkah strategis: memperkuat sistem pengajaran, mendirikan Rumah Nusantara, memperluas jejaring kemitraan dengan perguruan tinggi lokal, menyediakan wadah forum ilmiah, serta menghidupkan bahasa melalui ruang-ruang kebudayaan.
Kendati menunjukkan tren positif, Jose tidak menampik adanya tantangan nyata di lapangan, mulai dari keterbatasan jumlah tenaga pengajar, minimnya bahan ajar berbahasa Indonesia yang dirancang khusus untuk penutur bahasa Rusia, hingga konsistensi program. Meski demikian, pihaknya optimistis forum ini mampu memperkuat konsolidasi antar-Indonesianis.
“Pada 98 tahun lalu, bahasa Indonesia menyatukan sebuah bangsa. Hari ini, saya yakin bahasa Indonesia juga mampu menyatukan hati antarbangsa, termasuk masyarakat Indonesia, Rusia, dan Belarus,” ujar Jose Tavares.
Diplomasi Bahasa dan Peta Jalan Menuju Globalisasi 2045
Dalam kesempatan yang sama, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menguraikan visi besar pemerintah terkait penginternasionalan bahasa Indonesia. Menurutnya, agenda diplomasi bahasa bukan sekadar menambah kuantitas penutur asing, melainkan memproyeksikan martabat, fungsi, dan daya guna bahasa Indonesia di panggung peradaban global.
Pengakuan bahasa Indonesia sebagai salah satu dari sepuluh bahasa resmi Sidang Umum UNESCO sejak 20 November 2023 dijadikan pijakan awal untuk melangkah lebih jauh. Atip menegaskan bahwa bahasa Indonesia harus terimplementasi secara aktif dalam ranah diplomasi, riset publikasi akademik, transaksi perdagangan internasional, hingga industri pariwisata.
Guna mencapai target tersebut, pemerintah telah merancang Peta Jalan Penginternasionalan Bahasa Indonesia 2025–2045 yang terbagi ke dalam empat fase strategis:
- Fase Fondasi (2025–2029): Penguatan basis infrastruktur dan kelembagaan.
- Fase Ekspansi (2030–2034): Perluasan jangkauan program di berbagai belahan dunia.
- Fase Akselerasi (2035–2039): Percepatan integrasi bahasa dalam sektor-sektor vital global.
- Fase Konsolidasi (2040–2045): Pemantapan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa pembanding utama dunia.
Keberhasilan program ini juga diukur melalui Indeks Penginternasionalan Bahasa Indonesia (IPBI) yang mencatatkan peningkatan dari 51,44 pada tahun 2024 menjadi 52,99 pada tahun 2025, dan diproyeksikan mencapai angka 55,87 pada 2029. Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) tetap menjadi ujung tombak diplomasi ini. Hingga Oktober 2026, program BIPA tercatat telah menjangkau 62 negara melalui 520 lembaga penyelenggara dengan total 234.083 pemelajar aktif.
Mengingat tradisi akademik Rusia yang sangat kuat dalam studi linguistik dan sastra, Atip mendorong agar sinergi bilateral terus diperluas melalui ekspansi BIPA, pertukaran mahasiswa dan dosen, kolaborasi riset, hingga penerjemahan karya-karya sastra monumental kedua negara.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post