MALANG TODAY – Tragedi memilukan menimpa tim pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Enam orang petugas dan relawan dilaporkan tewas setelah terjebak dalam kepulan asap dan kobaran api pada Kamis (15/10/2026). Insiden tragis ini memicu tuntutan transparansi pengusutan dari pihak keluarga korban serta evaluasi menyeluruh atas Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan kerja.
Rangkaian karhutla yang melanda kawasan Bromo sepanjang Agustus hingga Oktober 2026 telah menghanguskan lebih dari 1.807 hektare lahan. Sejumlah titik vital terdampak parah, mulai dari Bukit Teletubbies, Blok Pengol, Kawasan 360, Pos Jemplang, hingga Lembah Wetangan dan lereng Pusung Lingker.
Kronologi Kebakaran dan Terjebaknya Petugas
Berdasarkan data Sistem Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi+) Kementerian Kehutanan, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Desa Ngadirejo, Sukapura, Probolinggo sejak 13 Oktober 2026. Api mula-mula membakar ladang warga di Blok Pusung Dawa pukul 14.23 WIB, sebelum akhirnya merambat ke dalam kawasan konservasi TNBTS yang memiliki medan terjal.
Meski sempat padam pada Rabu (14/10/2026), asap tebal kembali terlihat membubung dari lereng Pusung Lingker pada Kamis (15/10/2026) pagi. Empat petugas awal yang diterjunkan kewalahan menahan laju api dan meminta bantuan personel tambahan, termasuk dari pihak swasta dan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Situasi memburuk secara drastis sekitar pukul 13.30 WIB ketika angin kencang berembus dan membesarkan kobaran api. Enam orang petugas dan relawan terperangkap di tengah kepulan asap pekat tanpa jalan keluar, sementara lima personel lainnya berhasil menyelamatkan diri karena berada di sisi yang berlawanan dengan arah angin.
Tiga korban tewas seketika di lokasi kejadian, yakni Sukaris (55, Petugas Balai Besar TNBTS), Hendra Rony Wagiyanata (33, Manggala Agni Pemula), dan Wisnu Yuda Pratama (25, Karyawan Hotel Artotel Bromo). Sementara itu, tiga korban lainnya yang mengalami luka bakar parah sempat dilarikan ke rumah sakit. Sefriel Ardiansyah (19, Karyawan Hotel Artotel Bromo) meninggal pada malam harinya di RSUD Tongas, diikuti oleh Munawi (44, Anggota MMP) dan Suraji (40, Sekuriti Hotel Artotel Bromo) yang mengembuskan napas terakhir setelah sempat dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Pertanyaan dan Duka Pihak Keluarga
Duka mendalam diselimuti rasa janggal dirasakan oleh keluarga Sefriel Ardiansyah. Pemuda berusia 19 tahun yang merupakan atlet panjat tebing berprestasi asal Probolinggo tersebut diketahui baru enam bulan bekerja sebagai staf teknis kelistrikan di Hotel Artotel Bromo.
Pihak keluarga mempertanyakan alasan Sefriel diterjunkan langsung ke lokasi kebakaran yang ekstrem, mengingat tugas tersebut dinilai berada di luar deskripsi pekerjaannya sebagai karyawan hotel.
“Yang kami pertanyakan, kenapa adik kami Sefriel yang sedang bekerja di hotel bisa berada di lokasi kebakaran?” ungkap perwakilan keluarga, Aqniz Ambarwati, seraya menuntut transparansi dari pengusutan kasus tersebut.
Berbeda dengan Sefriel, korban lain seperti Munawi merupakan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang memang sudah bertahun-tahun aktif berjuang memadamkan karhutla di kawasan Bromo sebelum akhirnya gugur dalam tugas kali ini.
BNPB Dorong Evaluasi SOP dan Pembenahan Komando
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi pemicu penting untuk mengevaluasi total penerapan SOP keselamatan, kesiapan relawan, serta sistem komando lapangan.
“Setiap operasi penanganan bencana harus memiliki komando yang jelas, supervisi BPBD, serta petugas keselamatan yang cermat memantau perubahan arah angin dan perilaku api,” tegas Berton.
Ia menekankan bahwa Alat Pelindung Diri (APD) seperti respirator, pakaian tahan panas, dan helm adalah hal wajib, namun penilaian risiko di lapangan tetap menjadi kunci utama. Pihaknya berencana membatasi akses zona berbahaya berdasarkan kompetensi. Relawan tanpa pelatihan khusus disarankan untuk mendukung sektor logistik dan pemantauan, bukan diterjunkan langsung ke garis depan kobaran api.
Rentetan Karhutla di Pegunungan Jawa
Kondisi kemarau panjang, vegetasi kering, serta medan yang jauh dari sumber air menjadi kendala utama pemadaman karhutla secara manual di area pegunungan. Selain faktor cuaca, kelalaian manusia seperti pembakaran sampah, pembuatan api unggun, hingga pembuangan puntung rokok sembarangan disinyalir menjadi pemicu utama kebakaran.
Selain kawasan Bromo TNBTS, gelombang karhutla sepanjang kurun waktu yang sama juga melanda sejumlah gunung besar di Pulau Jawa, di antaranya:
Gunung Arjuno-Welirang (Jawa Timur): Kebakaran melanda lebih dari 260 hektare kawasan Tahura Raden Soerjo sejak 15 Oktober 2026, yang meluas ke wilayah Kota Batu, Malang, Pasuruan, dan Mojokerto sebelum akhirnya padam disiram hujan deras dan bantuan operasi modifikasi cuaca.
Gunung Sumbing (Jawa Tengah): Menghanguskan lahan seluas 974,3 hektare yang tersebar di Kabupaten Wonosobo, Temanggung, dan Magelang akibat medan terjal yang sulit dijangkau armada darat.
Gunung Lawu (Jawa Tengah): Pemkab Karanganyar sempat menetapkan status tanggap darurat setelah api membakar sekitar 875 hektare lahan di lereng gunung tersebut.
Gunung Ciremai (Jawa Barat): Kebakaran menghanguskan sekitar 60 hektare vegetasi di wilayah Kuningan hingga Majalengka pada akhir Oktober 2026 sebelum berhasil dikendalikan tim

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post