Alarm Tubuh yang Kerap Terabaikan
Masyarakat Malang Raya diminta untuk tidak lagi menganggap remeh rasa nyeri yang muncul pada tubuh. Keluhan fisik yang kerap dianggap sepele tersebut sebenarnya merupakan sinyal peringatan dini atau alarm alami yang menandakan adanya gangguan kesehatan mendasar dan membutuhkan penanganan medis secara tepat.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) sekaligus Dokter Anestesi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang, dr. Taufiq Agus Siswagama, Sp.An-TI, Subs.M.N.(K).DABRM, menegaskan pentingnya mengenali penyebab utama munculnya rasa sakit sebelum mengambil tindakan pengobatan.
“Nyeri berfungsi seperti alarm yang memberikan peringatan ketika terjadi sesuatu yang tidak normal dalam tubuh. Karena itu, masyarakat perlu mencari penyebab nyeri terlebih dahulu sebelum menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing,” ujar Pakar Manajemen Nyeri dan Terapi Regeneratif tersebut pada Senin (26/10/2026).
Membedakan Nyeri Akut dan Nyeri Kronis
Dalam dunia medis, klasifikasi nyeri secara umum dibagi menjadi dua kategori utama berdasarkan durasi berlangsungnya keluhan, yaitu nyeri akut dan nyeri kronis.
- Nyeri Akut: Terjadi secara mendadak dan berlangsung relatif singkat, biasanya dipicu oleh cedera fisik, luka luar, atau peradangan jangka pendek.
- Nyeri Kronis: Keluhan rasa sakit yang bertahan lama, umumnya melampaui rentang waktu tiga bulan, dan kerap berkaitan dengan kondisi medis yang lebih kompleks.
dr. Taufiq Agus Siswagama mendesak warga Malang agar lebih peka terhadap dinamika rasa sakit yang dirasakan. Menurutnya, pemulihan alami memang bisa terjadi pada trauma ringan, namun keluhan yang menetap memerlukan tindakan medis profesional.
“Nyeri ringan akibat luka kecil terkadang dapat mereda setelah jaringan tubuh mengalami pemulihan secara alami tanpa penanganan khusus. Namun, nyeri yang menetap, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian lebih serius dari penderitanya,” tutur Ketua Program Studi Fellowship Intervention Pain Anestesi RSSA Malang tersebut.
Bahaya Swamedikasi dan Konsumsi Obat Sembarangan
Salah satu kebiasaan berisiko yang masih sering dijumpai di tengah masyarakat adalah kecenderungan melakukan swamedikasi—membeli dan mengonsumsi obat pereda nyeri (analgesik) secara bebas tanpa konsultasi medis. Praktik ini dinilai berpotensi menyamarkan gejala penyakit asli yang justru membutuhkan pertolongan cepat.
Ia mencontohkan kasus yang sering terjadi pada keluhan di bagian abdomen atau perut. Diagnosis mandiri tanpa pemeriksaan klinis berisiko memicu komplikasi fatal bagi pasien.
“Sebagai contoh, nyeri perut tidak boleh langsung dianggap sebagai gangguan lambung tanpa pemeriksaan untuk memastikan penyebab yang mendasarinya. Penggunaan obat secara sembarangan justru berpotensi memperburuk kondisi tertentu apabila tidak sesuai dengan masalah kesehatan yang dialami pasien,” jelasnya secara tegas.
Pentingnya Evaluasi Medis Personal di Fasilitas Kesehatan
Penanganan masalah nyeri tidak dapat disaratkan secara seragam antara satu individu dengan individu lainnya. Tingkat toleransi atau ambang nyeri (pain tolerance) setiap orang bersifat sangat personal dan subjektif.
Oleh sebab itu, pemeriksaan diagnostik secara menyeluruh di fasilitas kesehatan terdekat maupun rumah sakit rujukan seperti RSSA Malang menjadi langkah krusial. Evaluasi individual memastikan terapi yang diberikan—baik melalui tindakan medikasi, intervensi manajemen nyeri, maupun terapi regeneratif—dapat berjalan presisi, efektif, serta meminimalkan risiko komplikasi sistemik di kemudian hari.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post