Kawasan Pusat Latihan Tempur Marinir (Puslatpurmar) 5 Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur, bergemuruh pada Selasa (20/10/2026). Rentetan tembakan dan ledakan artileri berat menandai puncaknya pelaksanaan sesi Combined Joint Live Fire Exercise (CJLF), yang sekaligus menjadi penutup Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Keris Woomera 2026 antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Australian Defence Force (ADF).
Skenario latihan tempur penutup ini diawali aksi presisi dua pesawat tempur Super Tucano milik TNI AU yang menjatuhkan bom tepat di titik sasaran. Dentuman keras dan guncangan tanah terasa hingga ke panggung pengamatan tempat jajaran pimpinan militer kedua negara dan tamu undangan menyaksikan langsung demonstrasi kekuatan udara dan darat tersebut.
Unjuk Alutsista Modern dan Presisi Tembak
Latihan tembak langsung ini memamerkan berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) mutakhir dari kedua negara. Sejumlah persenjataan berat yang dikerahkan antara lain peluncur roket Multi Launch Rocket System (MLRS) Vampire, meriam Howitzer 105 mm, serta Mortir 81 mm yang ditembakkan secara bergantian oleh personel TNI dan ADF.
Di lini darat, kesiapan penembak jitu juga diuji menggunakan Senapan Penembak Runduk-3 (SPR-3) serta persenjataan standar pertempuran jarak dekat Senapan Serbu 2 (SS2). Sesi tembak terpadu ini menjadi tolok ukur kesiapan taktis dan keakuratan serangan gabungan antarmatra.
Komandan Kodiklat TNI, Letjen TNI M. Naudi Nurdika, menjelaskan bahwa Latgabma Keris Woomera 2026 bertujuan untuk menyelaraskan doktrin dan prosedur taktis operasional. Latihan ini menjadi sarana krusial bagi TNI dan ADF dalam meningkatkan kemampuan operasi gabungan serta memperkuat koordinasi lintas unsur laut, darat, dan udara secara efektif.
Skenario Kompleks dan Operasi Amfibi di Jawa Timur
Rangkaian Latgabma yang berlangsung sejak 12 hingga 20 Oktober 2026 ini mencakup berbagai simulasi operasi berskala besar. Selain latihan tembak langsung, pasukan gabungan juga menggelar latihan operasi udara-darat dalam bentuk High Mobility Artillery Rocket System Rapid Infiltration (HIRAIN), serta integrasi amfibi dan maritim di sepanjang perairan Jawa Timur hingga Pantai Banongan.
Operasi sektor laut diperkuat oleh kapal perang TNI AL, KRI Sultan Iskandar Muda-367, yang beraliansi dengan armada Angkatan Laut Australia seperti HMAS Choules, HMAS Perth, dan HMAS Stalwart. Sementara pada sektor udara, integrasi taktis ditunjukkan melalui penerbangan formasi bersama antara pesawat Super Tucano TNI dan pesawat PC-21 milik ADF.
Memperkuat Interoperabilitas Kawasan Indo-Pasifik
Komandan Operasi Gabungan Australia, Vice Admiral Justin Jones, menekankan pentingnya latihan bersama ini dalam menghadapi tantangan geografis kawasan Indo-Pasifik yang dinamis. Menurutnya, kerumitan memobilisasi serta mempertahankan kekuatan militer di wilayah kepulauan memerlukan tingkat interoperabilitas yang tinggi.
Latihan dwitahunan ini melibatkan total 2.235 personel tempur, yang terdiri dari 1.235 personel TNI dan 1.000 personel ADF. Keris Woomera 2026 menjadi edisi kedua setelah sukses pertama kali diselenggarakan di Darwin, Australia, pada 2024 lalu.
Kedua pihak meyakini, keberhasilan Latgabma Keris Woomera 2026 tidak hanya mempererat kemitraan strategis pertahanan antara Indonesia dan Australia, tetapi juga memperkuat stabilitas dan kesiapsiagaan keamanan di kawasan Indo-Pasifik secara berkelanjutan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post