LEBAK, BANTEN — Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan efisiensi di sektor manufaktur manufaktur padat karya kembali memukul industri alas kaki nasional. Pabrik sepatu berorientasi ekspor milik PT Parkland World Indonesia (Plant 6) yang beroperasi di Kabupaten Lebak, Banten, resmi menghentikan seluruh kegiatan operasionalnya bulan ini. Keputusan dramatis tersebut berdampak langsung pada nasib sekitar 1.100 pekerja yang harus kehilangan mata pencaharian.
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lebak mengonfirmasi bahwa penghentian operasional pabrik produsen sepatu olahraga global tersebut dipicu oleh berakhirnya masa sewa bangunan pabrik yang tidak lagi diperpanjang oleh pihak manajemen perusahaan.
Masa Sewa Berakhir dan Hak Pekerja
Sekretaris Disnaker Kabupaten Lebak, Rully Chaeruliyanto, menjelaskan bahwa pihak manajemen perusahaan telah menyampaikan pemberitahuan resmi terkait penutupan operasional fasilitas produksi Plant 6 tersebut.
“Berdasarkan informasi yang disampaikan manajemen kepada kami, tidak ada isu internal lain. Manajemen menyatakan bahwa masa sewa gedung pabrik telah habis bulan ini dan perusahaan memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak sewa tersebut,” ujar Rully dalam keterangannya.
Hingga saat ini, pemerintah daerah setempat belum menerima konfirmasi apakah produsen sepatu olahraga skala ekspor tersebut bakal melebarkan sayapnya dengan merelokasi unit usaha ke wilayah lain di Indonesia. Di sisi lain, otoritas lokal juga mengaku belum menerima laporan mengenai adanya investor atau entitas manufaktur baru yang berencana mengambil alih lahan pabrik yang ditinggalkan.
Terkait hak-hak ketenagakerjaan bagi 1.100 buruh yang terdampak PHK, Rully memastikan bahwa proses pembayaran uang pesangon berjalan relatif kondusif tanpa ada gejolak. “Sampai saat ini, Disnaker Lebak tidak menerima aduan atau keluhan dari serikat pekerja terkait hak-hak buruh. Berdasarkan data yang masuk ke kantor kami, pihak perusahaan telah menyelesaikan pembayaran kompensasi pesangon sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tambahnya.
Dinamika Efisiensi dan Relokasi Industri Alas Kaki
Penutupan fasilitas produksi di Lebak semakin mempertegas dinamika teknis dan tantangan struktural yang melanda industri padat karya nasional. Selama kurun waktu 2023 hingga 2024, sejumlah manufaktur alas kaki skala besar terpaksa menempuh langkah efisiensi drastis melalui opsi penutupan permanen maupun relokasi pabrik dari Banten dan Jawa Barat menuju kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Faktor disparitas Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang lebih kompetitif di daerah tujuan relokasi menjadi salah satu pertimbangan strategis para pelaku industri untuk menjaga fleksibilitas biaya operasional bisnis.
Selain penyesuaian geografis, penurunan volume pesanan (order) dari pemegang merek global papan atas seperti Nike dan Adidas turut menekan margin profitabilitas produsen lokal. Tekanan biaya operasional yang terus meningkat kian memicu penutupan pabrik-pabrik pengolahan di berbagai wilayah.
Sebelum kasus Parkland World Indonesia di Lebak, beberapa pabrik manufaktur sepatu skala raksasa telah lebih dulu menutup operasionalnya. Di antaranya adalah PT Dean Shoes yang memutus hubungan kerja sekitar 3.500 buruh, serta PT Besco Indonesia yang merumahkan tak kurang dari 4.000 pekerja. Kedua pabrik yang berpusat di Karawang, Jawa Barat tersebut mencatatkan total kehilangan lapangan kerja mencapai 7.500 tenaga kerja dalam satu gelombang efisiensi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post