Lebur Duka Labur Rasa: Terobosan Guru Besar UB Melawan Toxic Positivity
Tren tuntutan untuk selalu berpikir positif atau toxic positivity di tengah tekanan hidup modern kerap kali justru menjadi beban tambahan bagi kesehatan mental masyarakat. Menjawab tantangan psikologis tersebut, Akademisi dari Universitas Brawijaya (UB) Malang menghadirkan terobosan pendekatan psikologi berbasis realitas kehidupan yang dinamakan model “Lebur Duka Labur Rasa”.
Gagasan inovatif ini dicetuskan oleh Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., yang dikukuhkan sebagai Profesor dalam bidang Psikologi Umum dan Eksperimen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB. Pendekatan ini mengajak masyarakat untuk berhenti memaksakan diri selalu optimistis dan mulai berani melihat kenyataan hidup sebagaimana adanya.
Di Antara Positif dan Negatif Ada Titik Netral
Dalam pemaparannya, Prof. Cleo menjelaskan bahwa selama ini masyarakat kerap terjebak dalam pola pikir dikotomis yang kaku, seperti harus selalu positif versus negatif, atau optimistis versus pesimistis. Menurutnya, ada ruang rasional yang sering terabaikan oleh banyak orang dalam merespons dinamika kehidupan.
“Di antara optimis dan pesimis sebenarnya ada jalan tengah yang dinamakan realistis. Di antara positif dan negatif sebenarnya ada titik yang dinamakan titik netral,” ujar akademisi yang tercatat sebagai Guru Besar ke-5 di FISIP UB sekaligus profesor ke-458 di kampus berlogo Raden Wijaya tersebut.
Ia menyoroti bahwa jargon-jargon psikologi populer yang sering berseliweran di media sosial—seperti “kamu pasti bisa” atau “terima kasih telah bertahan”—tidak selalu relevan untuk diterapkan pada semua kondisi psikologis. Menurutnya, pemaksaan untuk selalu positif justru bisa menjadi bentuk pengingkaran terhadap realitas.
Mengadopsi Kontemplasi Timur untuk Menerima Realitas
Model Lebur Duka Labur Rasa ini mengakar kuat pada tradisi kontemplasi pemikiran Timur. Salah satu prinsip utamanya adalah menyadari hukum alam bahwa segala sesuatu di dunia terjadi karena kondisi syaratnya terpenuhi. Perubahan, proses penuaan, rasa sakit, hingga kematian merupakan hukum realitas mutlak yang tak bisa dihindari oleh siapa pun.
“Segala hal itu bisa terjadi karena syaratnya terpenuhi. Menua, sakit, mati adalah patokan dari realitas. Sifat realitas itu memang seperti itu, selalu berubah sehingga kemudian tidak memuaskan dan tidak memiliki inti,” tegas Prof. Cleo.
Ia juga mengajak publik untuk lebih kritis dalam membedakan antara pengalaman subjektif dan realitas obyektif. Ungkapan penghibur diri seperti “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”, menurutnya, perlu dievaluasi kembali agar tidak dijadikan alat untuk melarikan diri dari kenyataan pahit sebuah kegagalan.
Kritik Terhadap Konsep “Versi Terbaik Diri”
Lebih lanjut, riset Prof. Cleo menguraikan bahwa identitas atau persepsi tentang diri (self) bukanlah sebuah entitas yang solid dan tetap, melainkan terus berubah seiring perjalanan waktu. Oleh karena itu, kampanye populer seperti “menjadi versi terbaik dari diri sendiri” perlu dipahami secara lebih bijak dan kritis.
Persepsi diri umumnya dibentuk oleh tiga ciri utama: mineness (rasa kepemilikan), centeredness (anggapan diri sebagai pusat pengalaman), dan selfhood (perasaan bahwa diri merupakan sosok yang unik dan penting). Terlalu melekat pada gambaran ideal diri justru berpotensi memicu kekecewaan berkepanjangan.
“Self atau diri itu bukan entitas yang bersifat solid sehingga tidak perlu dicari-cari karena tidak akan ketemu juga,” tambahnya.
Proses Latihan Sepanjang Hayat
Penerapan Lebur Duka Labur Rasa pada dasarnya tidak bertujuan menambah beban atau tuntutan baru bagi seseorang. Sebaliknya, pendekatan ini memandu individu untuk melepaskan kemarahan, kecemasan, dan ketidaktenangan batin yang muncul akibat memaksakan realitas agar selalu sesuai dengan ekspektasi pribadi.
Kendati demikian, Prof. Cleo menyadari bahwa menerima kenyataan pahit bukanlah proses instan, melainkan sebuah latihan mental sepanjang hayat. Secara alamiah, kecenderungan psikologis manusia memang selalu mencari rasa nyaman dan menghindari ketidaksukaan.
Ke depan, model psikologi ini akan terus diuji melalui berbagai metode penelitian eksperimental lintas kelompok masyarakat, disertai edukasi publik secara berkelanjutan agar konsepnya dapat diserap secara utuh dan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan mental masyarakat luas.
“Kerelaan individu untuk berangkat dari apa yang dinamakan sebagai penderitaan adalah prasyarat untuk mengalami realitas sebagaimana adanya,” pungkas Prof. Cleo.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post