Inovasi Model E/D/C-RITA: Paradigma Baru Penyuluhan Pertanian dari Universitas Brawijaya
Keputusan petani di kawasan Malang Raya dan daerah pertanian lainnya untuk menerapkan teknologi baru kerap kali menjadi teka-teki. Meski sudah memahami hingga menggemari varietas atau teknik baru, tidak sedikit petani yang enggan langsung mengadopsinya. Berangkat dari fenomena lapangan tersebut, Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D. memperkenalkan model penyuluhan terobosan bernama E/D/C-RITA saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK) Universitas Brawijaya (UB).
Profesor aktif ke-258 di UB ini menegaskan bahwa penolakan atau penundaan adopsi teknologi oleh petani tidak boleh disederhanakan sebagai bentuk ketidakpahaman. Berdasarkan riset dan pengamatannya selama 38 tahun, petani melakukan kalkulasi yang matang terkait pengalaman masa lalu, kondisi riil lahan, hingga potensi risiko sebelum mengambil keputusan.
Mengubah Pola ‘Paksa’ Menjadi Kemandirian Petani
Model E/D/C-RITA—singkatan dari Reflective, Integrated, Threshold yang dipadukan dengan strategi E/D/C—menekankan pentingnya proses refleksi. Pendekatan ini mengubah pola penyuluhan konvensional yang selama ini cenderung bersifat top-down atau sekadar transfer informasi teknis.
“Jangan dipaksa-terpaksa-terbiasa, tetapi diajak-menimbang-memandirikan,” tegas Prof. Edi Dwi Cahyono dalam pidato pengukuhannya. Menurutnya, petani sering kali berada di ruang antara—antara menerima dan menolak. Mereka bisa saja melakukan uji coba skala kecil, bekerja sama dengan sesama petani, atau bahkan melahirkan inovasi baru melalui proses kolaborasi (co-creation).
Melalui model ini, proses refleksi (reflectivity) menjadi kunci. Petani diajak menengok pengalaman masa lalu dan mempertimbangkan kondisi objektif mereka sebelum menentukan pilihan teknologi mana yang paling relevan untuk diterapkan.
Penyuluh Sebagai Mitra Strategis dan Penguatan COAST Framework
Guna mendukung implementasi model ini di lapangan, Prof. Edi melengkapinya dengan COAST Framework, sebuah instrumen evaluasi yang terdiri dari 30 item indikator. Alat ini dirancang untuk membantu para penyuluh lapangan dalam mengidentifikasi hambatan spesifik yang dihadapi petani, sekaligus menentukan metode pendekatan yang paling pas.
Dengan hadirnya kerangka kerja ini, peran penyuluh pertanian bergeser dari sekadar penyampai materi menjadi mitra diskusi strategis. Penyuluh diharapkan mampu mendampingi petani mengurai masalah, memetakan risiko, dan menemukan solusi lokal yang adaptif.
Prof. Edi menambahkan bahwa keberhasilan penyuluhan pertanian berkelanjutan, termasuk di wilayah agraris seperti Malang Raya, sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Lembaga penyuluhan perlu bergandengan tangan dengan institusi teknis dan akademisi guna menghadirkan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan petani, demi mewujudkan kemandirian sektor pertanian di masa depan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post