JAKARTA — Perusahaan raksasa teknologi global yang tergabung dalam kelompok hyperscalers kini tengah memicu kekhawatiran baru di kalangan pengamat ekonomi dunia. Langkah agresif mereka menggelontorkan belanja modal (capital expenditure) dalam porsi sangat besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dinilai menyimpan risiko sistemik tinggi apabila realisasi peningkatan produktivitas dan monetisasi keuntungan tidak memadai.
Ekonom penerima Nobel Ekonomi 2011, Profesor Thomas J. Sargent, memperingatkan bahwa besarnya alokasi dana untuk membangun pusat data (data center) dan infrastruktur komputasi AI menunjukkan ekspansi berbasis optimisme tinggi, di tengah manfaat ekonomi jangka panjang yang masih belum pasti.
Sargent mencatat bahwa lima raksasa teknologi asal Amerika Serikat—yakni Microsoft, Amazon, Alphabet, Meta, dan Oracle—diperkirakan mengalokasikan akumulasi dana investasi mencapai US$ 700 miliar hingga US$ 800 miliar pada 2026. Alokasi dana jumbo ini difokuskan pada pengadaan chip AI berteknologi tinggi, ekspansi jaringan pusat data, serta penguatan infrastruktur komputasi awan (cloud computing).
“Investasi merupakan bentuk pertaruhan yang didasari keyakinan tertentu. Modal harus dikumpulkan dan dialokasikan sebelum hasil konkretnya dapat diketahui secara pasti,” ujar Sargent dalam pemaparannya pada forum diskusi ekonomi dan teknologi di Jakarta.
Uji Realitas Produktivitas dan Pertumbuhan Ekonomi
Sargent menggarisbawahi adanya disparitas sudut pandang di antara para ahli ekonomi mengenai seberapa besar dampak AI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global. Pendekatan moderat memperkirakan AI akan mendorong otomatisasi tugas harian—seperti pengolahan data dan administrasi—yang memicu kenaikan total factor productivity (TFP) sebesar 0,7% dalam rentang 10 tahun. Kenaikan tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk membenarkan nilai valuasi saham dan lonjakan investasi kelompok hyperscalers saat ini.
Sebaliknya, agar proyeksi imbal hasil dan valuasi emiten teknologi yang ada di pasar saham saat ini dapat masuk akal, kajian keuangan menunjukkan bahwa produktivitas sektor AI secara nyata harus mampu melonjak hingga 3,5 kali lipat dalam waktu dekat.
“Kelima perusahaan ini sedang mengambil pertaruhan yang sangat besar. Jika perhitungan mereka tepat, imbal hasilnya akan luar biasa. Namun jika meleset, industri harus bersiap menanggung kerugian kapital yang besar,” tegas Profesor dari New York University tersebut.
Refleksi Sejarah: Pelajaran dari Bubble Kereta Api Abad ke-19
Guna memberikan konteks komparatif, Sargent membandingkan fenomena AI saat ini dengan boom pembangunan infrastruktur jaringan kereta api di Amerika Serikat pada rentang 1850 hingga 1910. Pada era tersebut, rel kereta api membentang dramatis dari 9.000 mil menjadi 250.000 mil, yang sukses mentransformasi iklim perdagangan dan distribusi barang.
Meski membawa dampak positif yang masif bagi perekonomian nasional secara jangka panjang, sejarah mencatat banyak entitas bisnis dan investor yang mengalami kebangkrutan parah di tengah jalan akibat persaingan ketat dan tingginya beban biaya operasional investasi.
Sargent memperingatkan, apabila akselerasi produktivitas dari implementasi AI gagal memenuhi ekspektasi pasar, tren lonjakan belanja modal saat ini berpotensi tercatat sebagai salah satu alokasi modal yang kurang efisien (malinvestment) dalam sejarah ekonomi modern. Oleh karena itu, bagi para pelaku pasar dan investor global, pemisahan antara euforia potensi teknologi dan kepastian arus kas imbal hasil menjadi krusial dalam mitigasi risiko portofolio investasi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post