BI Tahan Suku Bunga Utama, IHSG Terkerek ke Level 5.328
Pasar saham Indonesia merespons positif keputusan moneter terbaru dari bank sentral. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) menguat signifikan sebesar 0,94 persen hingga ditutup pada level 5.328 pada penutupan perdagangan Rabu. Penguatan IHSG ini terjadi sesaat setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen.
Langkah penahanan suku bunga tersebut diambil untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, ketegangan geopolitik, serta potensi tekanan inflasi pasokan. Gubernur BI, Destry Damayanti, mengonfirmasi keputusan strategis tersebut usai Rapat Dewan Gubernur (RDG).
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20–21 Oktober 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen,” ujar Destry dalam konferensi pers kebijakan moneter bank sentral.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia berlangsung cukup hangat dengan nilai transaksi mencapai Rp 17,1 triliun. Sebanyak 384 saham mencatatkan kenaikan harga, 328 saham melemah, dan 251 saham bergerak stagnan.
Dilema Makroekonomi dan Lonjakan Harga Energi Global
Keputusan bank sentral mempertahankan suku bunga dilakukan di tengah bayang-bayang tantangan makroekonomi yang kompleks. Pelaku pasar sebelumnya mencermati tingginya volatilitas nilai tukar rupiah, dinamika arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), hingga potensi risiko kenaikan harga minyak mentah dunia.
Selain faktor eksternal, ancaman fenomena iklim El Niño turut menjadi perhatian karena berpotensi mendongkrak harga komoditas pangan domestik. Meski demikian, laju inflasi Indonesia pada September lalu tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan (year-on-year), masih berada di dalam koridor target BI di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
Di panggung global, harga minyak bumi dunia merangkak naik menyusul belum adanya titik terang dalam penyelesaian ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Gangguan keamanan pada jalur pelayaran strategis di Laut Merah serta ancaman terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi semakin memperluas risiko rantai pasok energi global. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu kembali inflasi global dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter berbagai bank sentral dunia.
Bursa Asia Bergerak Variatif di Tengah Sinyal Positif Wall Street
Dinamika pasar modal Indonesia sejalan dengan pergerakan bursa saham di kawasan Asia yang cenderung bervariasi. Sentimen pasar global sempat mendapat dorongan positif dari bursa Wall Street, khususnya setelah produsen server kecerdasan buatan (AI), Super Micro Computer, menaikkan proyeksi pendapatannya seiring melonjaknya permintaan teknologi AI.
Di kawasan regional, indeks Kospi Korea Selatan melonjak tajam hingga 3,3 persen, disusul indeks Nikkei 225 Jepang yang naik 0,9 persen. Sebaliknya, bursa di wilayah Tiongkok justru tertekan; indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,9 persen dan Shanghai Composite terkoreksi 0,6 persen. Rilis data pertumbuhan ekonomi Tiongkok kuartal III yang berada di atas ekspektasi justru meredam harapan investor akan hadirnya stimulus tambahan dari pemerintah Beijing.
Sementara itu dari pasar saham Amerika Serikat, mayoritas indeks utama menguat dipicu laporan kinerja keuangan korporasi yang solid. Indeks S&P 500 menguat 0,3 persen dan Dow Jones Industrial Average melesat 1 persen. Namun, fluktuasi pada saham-saham sektor teknologi menyebabkan indeks Nasdaq Composite terkikis tipis kurang dari 0,1 persen.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post