Gagal Raih Dukungan di DK PBB, Michelle Bachelet Mundur dari Bursa Calon Sekjen PBB
Mantan Presiden Chile, Michelle Bachelet, secara resmi menyatakan mundur dari pencalonannya sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keputusan krusial ini diambil setelah dukungan terhadap dirinya merosot tajam dalam proses pemungutan suara informal yang digelar oleh Dewan Keamanan PBB.
Pernyataan pengunduran diri tersebut disampaikan langsung oleh Bachelet melalui sebuah unggahan video di media sosialnya. Langkah ini menandai berakhirnya langkah salah satu tokoh perempuan paling menonjol dari kawasan Amerika Latin dalam perebutan kursi tertinggi di organisasi antabangsa tersebut.
“Hari ini, saya mengumumkan bahwa saya telah memutuskan untuk tidak melanjutkan pencalonan saya untuk posisi Sekretaris Jenderal PBB,” ujar Michelle Bachelet dalam keterangannya.
Hasil Voting Informal yang Memukul Mundur Momentum
Keputusan Bachelet untuk menyudahi pencalonannya tidak lepas dari hasil jajak pendapat informal ketiga yang berlangsung di Dewan Keamanan PBB. Dalam pemungutan suara tertutup tersebut, mantan Komisaris Tinggi HAM PBB ini hanya mengantongi satu suara mendukung (encourage), sementara 11 anggota memberikan suara menolak (discourage), dan tiga anggota memilih tidak berpendapat (no opinion).
Hasil minim tersebut menempatkan posisi Bachelet terpuruk di urutan kedua dari bawah di antara delapan kandidat yang tersisa. Kondisi ini kian diperparah setelah pemerintah Chile secara resmi menarik dukungan diplomatiknya sejak Maret 2026, meskipun pada awalnya pencalonan Bachelet disokong kuat oleh koalisi negara kawasan seperti Chile, Brasil, dan Meksiko.
Di saat bersamaan, peta persaingan kian menguat ke arah figur lain, salah satunya mantan Wakil Presiden Kosta Rika, Rebeca Grynspan, yang terus meraih simpati signifikan dari negara-negara anggota.
Pesan Reflektif dan Isu Kesetaraan Gender di Tubuh PBB
Kendati harus menghentikan langkahnya di tengah jalan, Bachelet mengaku tidak menyesali keterlibatannya dalam bursa pemilihan pemimpin tertinggi PBB tersebut. Ia menyadari sejak awal bahwa pencalonannya berada dalam situasi politik global yang penuh tantangan.
“Sebagian orang mungkin percaya bahwa saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk pencalonan seperti yang ingin saya wakili. Namun, saya tidak menyesal telah menerima tantangan besar ini,” tegas Bachelet.
Ia menambahkan, keberaniannya melangkah setidaknya telah memicu diskursus global mengenai pentingnya kepemimpinan perempuan dari kawasan Amerika Latin di tingkat tertinggi PBB. Isu ini menjadi sorotan utama mengingat sepanjang sejarah berdirinya PBB, belum pernah ada satu pun perempuan yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal.
Jabatan Sekjen PBB saat ini masih dipegang oleh Antonio Guterres, yang dijadwalkan bakal resmi mengakhiri masa jabatan periode keduanya pada 31 Desember 2026 mendatang. Momen transisi ini dipandang banyak pihak sebagai waktu yang tepat bagi PBB untuk mencetak sejarah baru dalam kesetaraan gender di level kepemimpinan puncak.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post