Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, beserta jajaran menteri kabinet ke Istana Kepresidenan untuk merumuskan strategi berbasis riset demi menyelamatkan industri tekstil dan alas kaki nasional. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang kian menekan sektor manufaktur padat karya di tanah air.
Sejumlah pejabat tinggi negara tampak hadir dalam pertemuan penting tersebut, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Roeslani, serta Kepala Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Donny Oskaria.
Fokus utama pembahasan tertuju pada penguatan daya saing industri tekstil melalui integrasi hasil riset dan inovasi teknologi tepat guna yang dapat diterapkan secara masif oleh para pelaku industri.
Badai PHK Tekan Sektor Padat Karya
Urgensi penanganan sektor padat karya ini didasari oleh data Kementerian Ketenagakerjaan melalui program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 43.805 kasus PHK di seluruh Indonesia, di mana porsi terbesar didominasi oleh industri tekstil, garmen, dan alas kaki.
Kondisi memprihatinkan ini terlihat jelas di Jawa Tengah, yang mencatatkan angka PHK tertinggi pada sektor manufaktur. Sejumlah manufaktur besar terpaksa memangkas ratusan tenaga kerja mereka, seperti PT Citra Busana Semesta di Sukoharjo (920 pekerja), PT Victory Apparel di Semarang (846 pekerja), PT Combine Will Industrial Indonesia (849 pekerja), dan PT Samwon Busana Indonesia di Jepara (685 pekerja).
Inovasi Material Ramah Lingkungan dan Teknologi BRIN
Menjawab tantangan tersebut, BRIN telah menyiapkan rangkaian inovasi teknologi modern, mulai dari penyediaan mesin pembuat kain untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga pengembangan material pakaian ramah lingkungan berbasis limbah daun nanas.
Lembaga riset negara ini juga mengembangkan material tekstil tingkat lanjut (advanced materials), seperti kain anti-bakteri, kain tahan sinar ultraviolet (UV), serta teknologi pengolahan limbah industri tekstil. Khusus untuk industri batik nasional, BRIN berhasil menciptakan lilin batik organik berbahan dasar limbah kelapa sawit guna menggantikan lilin konvensional.
Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan nilai tambah produk lokal di pasar internasional melalui pendekatan industri hijau.
Sepatu Terjangkau untuk Siswa dan Teknologi Alat Kesehatan
Selain sektor tekstil, Presiden Prabowo menaruh perhatian khusus pada penguatan industri alas kaki domestik. Kepala Negara menekankan pentingnya penyediaan sepatu yang terjangkau, tahan lama, mudah dirawat, dan nyaman, khususnya bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Riset yang dilakukan BRIN juga melahirkan inovasi di bidang medis dan penerbangan, seperti pengembangan smart insole (sol dalam sepatu pintar). Teknologi ini dirancang untuk memantau proses pemulihan pasien pasca-stroke, serta membantu penerjun payung memantau posisi kaki saat mendarat demi meminimalkan risiko cedera.
Seluruh teknologi dan mesin tekstil yang dikembangkan BRIN telah melewati tahap uji coba. Pemerintah kini berfokus pada komersialisasi dan distribusi mesin secara luas agar UMKM di berbagai daerah dapat meningkatkan kapasitas produksi secara massal. Inovasi-inovasi hijau ini dijadwalkan meluncur secara resmi ke pasar pada ajang Innovation Summit yang akan digelar akhir tahun ini.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post