Fenomena klimatis El Nino kuat dilaporkan memicu kekeringan ekstrem yang meluas di berbagai wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta mencatatkan rekor tanpa hujan terpanjang di tanah air, yakni mencapai 131 hari berturut-turut.
Kondisi darurat iklim ini tidak hanya melanda wilayah yang langganan kering, tetapi juga mulai mengikis kawasan yang secara historis tergolong basah sepanjang tahun. Anomali suhu permukaan laut yang signifikan di Samudra Pasifik menjadi motor utama di balik pergeseran pola musim yang memicu krisis air nasional ini.
Anomali Pasifik dan Hari Tanpa Hujan Panjang
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengonfirmasi bahwa kekeringan meteorologis ekstrem telah menyebar luas. Sejumlah stasiun pemantauan BMKG di berbagai daerah mencatat durasi hari tanpa hujan (HTH) yang telah melampaui ambang batas 60 hari berturut-turut.
Anomali iklim global ini dipicu oleh lonjakan suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik yang mencatatkan deviasi hingga 2,63 derajat Celsius. Dampaknya sangat masif: sebanyak 556 Zona Musim (ZOM) atau setara 61,91 persen dari total luas daratan Indonesia masih terperangkap dalam musim kemarau yang berkepanjangan.
Bahkan dari 110 ZOM yang biasanya selalu basah atau bercurah hujan tinggi sepanjang tahun, sebanyak 98 zona di antaranya kini jatuh ke dalam kondisi kering. Hal ini mempertegas betapa masifnya dampak El Nino periode ini terhadap ekosistem dan ketersediaan air nasional.
Proyeksi Hingga Awal 2027 dan Transisi Bertahap
BMKG memproyeksikan bahwa fenomena El Nino masih akan bertahan setidaknya hingga kuartal pertama tahun 2027. Konsekuensinya, transisi menuju musim hujan tidak akan terjadi secara serentak, melainkan bergeser dan berlangsung secara bertahap di tiap region.
Pada periode November, diperkirakan baru 185 ZOM (24,66 persen wilayah daratan) yang memulakan musim penghujan. Angka tersebut diproyeksikan meningkat pada Desember dengan 266 ZOM (17,31 persen wilayah) yang mulai memasuki fase basah. Meski hujan mulai turun secara perlahan, BMKG mengingatkan bahwa ancaman kekeringan di beberapa wilayah masih akan menetap lebih lama akibat ketimpangan distribusi curah hujan.
Puncak Musim Hujan Diprediksi Tetap Normal
Kendati kedatangan musim hujan mengalami penundaan signifikan, BMKG mengindikasikan bahwa akumulasi curah hujan secara umum diprakirakan masih berada pada rentang normal. Sekitar 510 ZOM atau 69,76 persen daratan Indonesia berpotensi menerima pasokan air hujan dengan volume yang tergolong lumrah.
Puncak musim hujan diproyeksikan terjadi bertahap, dimulai dari 155 ZOM (36,94 persen wilayah) pada Desember 2026, menyusul 162 ZOM (25,68 persen wilayah) pada Januari 2027, dan berlanjut ke 190 ZOM (16,79 persen wilayah) pada Februari 2027.
Fenomena kemarau 131 hari di Bantul kini menjadi alarm keras bagi manajemen krisis bencana nasional. Dengan lebih dari separuh wilayah zona musim Indonesia terdampak, respon terintegrasi terhadap ketahanan pangan dan pasokan air bersih menjadi prioritas mendesak di tengah ketidakpastian iklim global.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post