Sikap Hati-Hati Bank Indonesia di Tengah Turbulensi Pasar Keuangan Global
Bank Indonesia (BI) mengambil langkah strategis dengan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 20–21 Oktober 2026. Meski suku bunga acuan ditahan, otoritas moneter tersebut memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen, sementara suku bunga lending facility tetap berada di posisi 6,50 persen.
Keputusan penyesuaian terukur ini diambil sebagai respons atas melambatnya prospek pertumbuhan ekonomi global yang disertai peningkatan ketidakpastian pasar keuangan secara masif. Bank sentral menilai bahwa stabilitas makroekonomi domestik perlu terus dijaga secara kokoh tanpa mengesampingkan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan moneter ini sejalan dengan konsistensi proyeksi inflasi domestik yang diprakirakan tetap rendah dan terkendali. BI mengarahkan inflasi tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen hingga akhir tahun 2026.
Bayang-Bayang Geopolitik dan Doktrin ‘Higher for Longer’
Langkah waspada yang ditempuh Bank Indonesia tidak lepas dari konstelasi ekonomi global yang kian dinamis. Esok ketegangan geopolitik yang memanas, khususnya konflik di Kawasan Timur Tengah, memicu volatilitas harga minyak bumi serta komoditas global. Situasi ini secara langsung menahan laju pemulihan ekonomi dunia.
Perekonomian global pada tahun 2026 diproyeksikan hanya tumbuh di kisaran 3 persen dengan laju inflasi dunia yang masih bertengger di angka 4,6 persen. Prospek suram ini memaksa sejumlah bank sentral utama di berbagai negara mempertahankan rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan semula—sebuah fenomena yang dikenal sebagai higher for longer.
BI menggarisbawahi bahwa peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), masih terbuka lebar. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS tersebut kian diperparah oleh pembengkakan defisit anggaran pemerintah AS, yang pada gilirannya mendongkrak imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) ke level yang tinggi.
Memperkuat Ketahanan Eksternal dan Sinergi Kebijakan
Perkembangan di AS tersebut berdampak langsung pada pergerakan modal global. Minat investor terhadap aset portofolio di negara-negara berkembang (emerging markets) tercatat masih terbatas. Kondisi ini memberikan daya dorong bagi penguatan Indeks Dolar AS (DXY) terhadap berbagai mata uang dunia, baik dari kelompok negara maju maupun berkembang.
Menghadapi risiko limpahan (spillover effect) eksternal ini, Bank Indonesia menekankan krusialnya koordinasi erat antara kebijakan moneter dan fiskal pemerintah. Sinergi lintas otoritas dinilai menjadi kunci utama untuk memperkuat daya tahan eksternal, menjaga stabilitas nilai tukar, serta terus mengawal momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri di tengah badai ekonomi global.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post