JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa pagi. Pergerakan mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 26 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp17.939 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.913 per dolar AS.
Pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia, serta memicu arus modal keluar dari pasar domestik.
Eskalasi Geopolitik dan Kenaikan Harga Minyak
Analis pasar uang dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa memanasnya situasi keamanan di Timur Tengah menjadi sentimen utama yang menekan mata uang berkembang, termasuk rupiah. Konflik baru yang melibatkan serangan rudal dan pesawat nirawak di kawasan strategis tersebut telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Dampak langsung dari memanasnya suhu politik tersebut terlihat pada pergerakan harga komoditas energi. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat melonjak 2,06 persen hingga menyentuh level 93,74 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent turut terkerek naik 1,84 persen ke posisi 106,65 dolar AS per barel.
Tekanan Teknis dan Sentimen Regional
Selain faktor global, rupiah juga menghadapi tekanan dari dalam negeri. Aksi lepas saham atau capital outflow oleh investor asing di pasar ekuitas domestik masih terus berlangsung, sehingga membebani pergerakan mata uang lokal.
Tren pelemahan ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga terjadi secara merata pada mayoritas mata uang di kawasan Asia yang cenderung tertekan terhadap dolar AS sejak pembukaan perdagangan pagi.
Mempertimbangkan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak dinamis dan berfluktuasi pada kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS sepanjang hari ini.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post