SAMOSIR — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas resmi mengandeng Pemerintah Inggris dalam meluncurkan proyek irigasi berbasis tenaga surya di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Langkah strategis ini dirancang untuk mendongkrak produksi beras nasional, memangkas biaya operasional petani hingga nol rupiah, sekaligus menjadi solusi adaptasi konkret terhadap ancaman perubahan iklim di sektor pertanian.
Sistem pompa air bertenaga surya yang berlokasi di Desa Sibonor Ompu Ratus, Samosir, tersebut diresmikan setelah menyelesaikan seluruh rangkaian uji coba operasional. Proyek percontohan ini dikembangkan di bawah naungan fase kedua Low Carbon Development Initiative (LCDI), sebuah program kemitraan hijau berkelanjutan antara Indonesia dan Inggris.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A. A. T. Sambodo, menegaskan bahwa pemanfaatan energi terbarukan ini membuktikan bagaimana teknologi hijau mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan secara sekaligus.
“Proyek ini menunjukkan bahwa solusi untuk meningkatkan produktivitas di sektor ekonomi, khususnya pertanian, dapat memberikan manfaat berganda melalui pemanfaatan energi terbarukan,” ujar Leonardo dalam seremoni peresmian tersebut.
Manfaatkan Air Danau Toba dan Bebaskan Biaya Operasional
Sistem irigasi modern ini memanfaatkan air dari Danau Toba untuk mengaliri 82 hektar sawah tadah hujan yang dikelola oleh 749 petani lokal. Sebelum adanya pompa tenaga surya ini, para petani hanya bisa melakukan satu kali masa tanam dalam setahun akibat keterbatasan pasokan air.
Berdasarkan data teknis proyek, intervensi teknologi ini diproyeksikan bakal mendongkrak produksi beras tahunan secara signifikan, dari yang semula hanya sekitar 50 ton menjadi 150 ton. Selain melonjakkan hasil panen, penggunaan panel surya ini secara otomatis menggantikan pompa irigasi bermesin bensin.
Dampaknya sangat krusial: biaya bahan bakar petani berkurang hingga nol rupiah, sementara emisi gas rumah kaca berhasil ditekan hingga 10,18 ton ekuivalen karbondioksida (CO2e) per tahun. Leonardo menambahkan bahwa inisiatif ini sejalan dengan target penguatan ketahanan pangan, energi, dan air dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Komitmen Kemitraan Iklim Global Inggris-Indonesia
Sektor pertanian di Sumatera Utara saat ini menghadapi tekanan berat akibat fenomena iklim seperti El Nino dan kekeringan berkepanjangan. Padahal, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang hingga 24,44 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Utara pada tahun 2024.
Deputy Development Director Kedutaan Besar Inggris, Freddie Brunt, menyampaikan bahwa peresmian pompa air tenaga surya di Samosir merupakan cerminan nyata dari kemitraan erat kedua negara dalam merespons dampak perubahan iklim global.
“Peresmian pompa air bertenaga surya di Samosir mencerminkan kemitraan kuat antara Inggris dan Indonesia dalam mengatasi dampak perubahan iklim sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan,” tutur Brunt.
Selain program LCDI Fase 2, Inggris juga mendukung transisi energi Indonesia melalui Just Energy Transition Partnership (JETP) yang diluncurkan sejak 2022. Dalam kerangka kerja sama senilai 20 miliar dolar AS tersebut, pemerintah Inggris telah berkomitmen memberikan penjaminan Bank Dunia senilai 1 miliar dolar AS untuk mendanai transisi energi bersih di Indonesia.
Replikasi Proyek dan Potensi Pendapatan Petani
Melihat keberhasilan di Desa Sibonor Ompu Ratus, pemerintah menjadwalkan replikasi sistem irigasi serupa di Desa Pakpahan, Kecamatan Onan Runggu, pada paruh kedua tahun 2026. Proyek perluasan ini ditargetkan mampu mengaliri 73 hektar sawah tadah hujan milik 903 petani, meningkatkan produksi beras dari 96 ton menjadi 288 ton per tahun, serta mengurangi emisi sebesar 7,32 ton CO2e per tahun.
Secara akumulatif, integrasi kedua proyek irigasi tenaga surya di Samosir ini diperkirakan bakal meningkatkan pendapatan para petani lokal hingga lebih dari Rp2 miliar per tahun.
Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom, menyambut optimistis kehadiran teknologi ini. Menurutnya, kepastian pasokan air memungkinkan petani meningkatkan frekuensi masa tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.
“Kami berharap inovasi ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat perekonomian daerah, dan menopang ketahanan pangan di Kabupaten Samosir secara berkelanjutan,” pungkas Vandiko.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post