Nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh melambungnya harga minyak dunia akibat eskalasi ketegangan geopolitik global, serta menguatnya ekspektasi atas ketatnya kebijakan moneter yang bakal diambil oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Pada penutupan perdagangan Selasa sebelumnya, rupiah terkoreksi tipis 3 poin atau setara 0,02 persen ke level Rp17.981 per dolar AS, dibandingkan posisi hari sebelumnya di Rp17.978. Sebelum berhasil menahan penurunan yang lebih dalam, mata uang domestik sempat merosot hingga 33 poin (0,18 persen) dan menyentuh level psikologis baru di Rp18.011 per dolar AS.
Faktor Geopolitik dan Lonjakan Harga Minyak Dunia
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah pada perdagangan tengah pekan ini diperkirakan bakal terus berfluktuasi namun cenderung mengarah ke zona merah. Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang Garuda berada di rentang Rp17.980 hingga Rp18.030 per dolar AS.
Menurut analisisnya, pendorong utama tekanan terhadap rupiah adalah faktor geopolitik global yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi tersebut secara langsung menahan harga minyak mentah internasional berada di level yang sangat tinggi, yang berpotensi memperberat beban beban fiskal serta neraca perdagangan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak (net oil importer).
Sinyal Hawkish The Fed dan Ketakutan Pasar
Selain sentimen komoditas, pasar keuangan global saat ini tengah mencermati respons kebijakan moneter AS. Tingginya harga minyak kian memicu kekhawatiran meluasnya inflasi di AS, yang pada gilirannya mendorong spekulasi bahwa The Fed belum akan menghentikan siklus pengetatan suku bunga acuannya. Hal ini menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin yang telah ditetapkan pada pertemuan medio September lalu.
Berdasarkan data indikator CME FedWatch, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 70 persen bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan mendatang. Prospek kebijakan yang cenderung agresif (hawkish) ini makin diperkuat oleh serangkaian pernyataan bernada ketat dari para pejabat bank sentral AS dalam sepekan terakhir.
Pernyataan dan sinyal lanjutan dari para petinggi The Fed diperkirakan tetap menjadi kompas utama bagi pergerakan arus modal global. Investor cenderung mengamankan aset mereka pada instrumen berisiko rendah berbasis dolar AS, sehingga menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perbandingan dengan Mata Uang Utama Lainnya
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang utama dunia dan kawasan mencatatkan variasi dinamis pada penutupan perdagangan sore kemarin. Rupiah tercatat ditransaksikan pada level Rp14.059 per dolar Singapura dan Rp114,26 per yen Jepang.
Sementara itu untuk mata uang barat lainnya, rupiah berada di posisi Rp12.571 per dolar Australia serta Rp20.401 per euro. Ketidakpastian makroekonomi global diperkirakan masih akan membayangi stabilitas nilai tukar regional dalam beberapa waktu ke depan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post