Tolak Proposal Gencatan Senjata Iran, Donald Trump Tegaskan AS Tak Akan Tunduk
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menolak proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Iran. Proposal dari Teheran tersebut sebelumnya diklaim dapat membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional dalam waktu satu minggu. Penolakan ini kian memperpanjang kebuntuan konflik antara kedua negara yang telah berlangsung selama hampir tujuh bulan di jalur pelayaran energi paling krusial di dunia tersebut.
“Saya menolak proposal mereka,” ujar Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih. “Mereka mengajukan sebuah proposal, tetapi saya telah menolaknya. Mereka ingin membuat kesepakatan untuk segera membuka Selat Hormuz karena mereka berada dalam posisi yang sangat terdesak. Mereka ingin bernegosiasi, dan saya pikir itu bagus. Saya juga suka membuat kesepakatan.”
Rencana Tujuh Hari Teheran dan Syarat Pemulihan Jalur Laut
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan bahwa proposal tersebut disusun melalui koordinasi langsung dengan Pemimpin Agung Iran, Mojtaba Khamenei. Rencana damai yang diusulkan Iran ini menuntut penghentian seluruh permusuhan di Timur Tengah, termasuk konflik yang tengah berkecamuk di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang sempat bertemu dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, menjelaskan bahwa syarat-syarat yang diajukan Iran merujuk pada nota kesepahaman (MoU) yang sempat ditandatangani bersama AS awal tahun ini. Syarat tersebut meliputi pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan sanksi terhadap minyak Iran, serta penghentian blokade laut oleh militer AS.
Berdasarkan draf proposal tersebut, Iran berjanji akan membuka kembali Selat Hormuz pada hari ketujuh setelah kesepakatan disetujui. “Proses ini akan langsung dimulai pada hari pertama mereka menerima proposal tersebut,” tegas Pezeshkian saat melakukan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, di New York. Pezeshkian menambahkan bahwa Iran tidak pernah meninggalkan meja perundingan, namun kini kehilangan kepercayaan pada AS akibat pengalaman masa lalu.
Skeptisisme Washington dan Klaim Sepihak “Trump Strait”
Meski Iran menawarkan solusi diplomatis, respons dari Washington justru menunjukkan arah sebaliknya. Hanya berselang beberapa jam setelah pernyataan pihak Iran, laporan internal mengungkapkan bahwa Trump sangat skeptis Teheran akan memenuhi tuntutan AS. Sebaliknya, Trump diperkirakan bakal memperbarui kampanye pengeboman udara terhadap posisi-posisi militer Iran.
Sikap keras Trump kian dipertegas melalui unggahannya di platform media sosial miliknya, Truth Social. Trump membagikan gambar peta Selat Hormuz yang dilingkari merah dan diberi label baru secara sepihak: “Trump Strait” (Selat Trump).
Menanggapi sikap konfrontatif tersebut, juru bicara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, Hossein Mohebi, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mundur. “Kami tidak akan berhenti menghukum AS sampai ketujuh syarat yang diajukan Iran dipenuhi sepenuhnya,” tegas Mohebi. Salah satu syarat mutlak lainnya yang diungkapkan adalah penghentian total permusuhan dan intervensi militer di Yaman.
Sorotan Internasional Terhadap Keamanan Energi Global
Ketegangan yang terus meningkat di Selat Hormuz memicu kekhawatiran mendalam dari komunitas internasional. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, mengkritik lambatnya respons global dalam menjaga keamanan jalur pelayaran vital tersebut, termasuk di Selat Bab al-Mandab.
“Kerajaan Arab Saudi menolak keras tindakan pihak mana pun yang menggunakan jalur perairan vital ini sebagai alat tekanan, ancaman, atau instrumen yang merugikan kepentingan negara lain,” ujar Faisal, sembari menekankan pentingnya kawasan tersebut bagi ketahanan energi global.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyatakan kesiapan Moskow untuk turun tangan. Rusia bersama negara-negara sekutunya mengaku siap berkontribusi secara konstruktif guna menstabilkan kawasan yang memiliki nilai strategis tinggi tersebut.
Upaya diplomasi sebelumnya yang digagas pada Juni lalu sempat membuka harapan lewat penandatanganan MoU untuk mengakhiri konflik, membuka selat, dan memulai kembali dialog nuklir. Namun, kesepakatan itu runtuh seketika setelah Iran menembaki kapal-kapal komersial di Selat Hormuz yang dituduh melanggar rute pelayaran resmi. Hingga kini, Iran terus mewajibkan setiap kapal asing melapor demi alasan kedaulatan, sementara AS kerap meluncurkan serangan udara balasan ke wilayah pesisir Iran jika terjadi gangguan terhadap kapal dagang barat.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post