PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang wilayah Kalimantan Tengah kian memprihatinkan. Kepungan kabut asap pekat tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga dan mengganggu ratusan penerbangan, tetapi juga mengancam keselamatan kelompok rentan seperti lansia, ibu menyusui, dan bayi yang kini harus berjuang bertahan hidup di tengah kualitas udara yang masuk kategori berbahaya.
Kondisi di lapangan menunjukkan jarak pandang di sejumlah titik menyusut hingga hanya 100 meter. Langit tampak berwarna jingga pekat akibat paparan partikel asap gambut. Konsentrasi PM2.5 di Kota Palangka Raya bahkan sempat menembus angka 501,9 µg/m³, angka yang melampaui batas sangat berbahaya dan beracun bagi kesehatan manusia.
Perjuangan Kelompok Rentan di Garis Depan Karhutla
Kondisi mencekik ini dirasakan langsung oleh Salasiah (60), putrinya Ilma Nailah Anjely (26), dan cucunya Idham Fatih yang baru berusia enam bulan. Ketiganya tinggal di kawasan Jalan Hiu Putih Lanjutan, Palangka Raya—lokasi yang berbatasan langsung dengan lahan gambut terbakar.
Hampir satu bulan penuh, keluarga ini hidup dalam kecemasan tinggi. Api terus mengintai area pekarangan dan bangunan di belakang rumah mereka, seperti bekas kandang ayam dan sarang walet.
“Kami tidak pernah bisa tidur nyenyak. Kadang malam-malam harus bangun mengecek ke belakang karena takut api tiba-tiba membesar,” ungkap Ilma.
Untuk bertahan, Salasiah dan Ilma terpaksa berbagi peran. Sang ibu yang tergolong lansia terpaksa menyiram titik api kecil secara mandiri dengan ember menimba dari kolam bekas ikan, sementara Ilma fokus menjaga sang bayi di dalam ruangan sambil terus memberikan ASI agar bayinya tidak terdehidrasi akibat paparan asap.
Fasilitas Kesehatan ‘Jemput Bola’ Sangat Dinantikan
Paparan asap secara terus-menerus mulai menurunkan kondisi fisik warga. Salasiah mengaku sering mengalami sesak napas, pusing, hingga kenaikan tekanan darah akibat stres dan kelelahan fisik memadamkan api. Sementara itu, bayi Idham mulai menunjukkan gejala gelisah dan batuk akibat udara pengap di dalam rumah.
Akses menuju fasilitas kesehatan terdekat yang berjarak sekitar lima kilometer terasa sulit dijangkau karena harus menembus kabut asap yang tebal. Warga berharap adanya tim medis yang turun langsung ke pemukiman untuk memberikan layanan kesehatan door-to-door.
“Kami sangat membutuhkan posko kesehatan atau pemeriksaan medis yang mendatangi rumah-rumah warga. Sebagian besar warga di sini terdampak langsung dan ruang geraknya sangat terbatas,” ujar Salasiah.
Tekanan warga kian bertambah ketika pemadaman listrik berkala terjadi. Tanpa aliran listrik, alat penyaring udara (air purifier) dan kipas angin tidak dapat beroperasi, menyebabkan kabut asap masuk tanpa terfilter ke dalam rumah.
Relawan Keterbatasan Bahan Bakar, Operasi Udara Terkendala
Di sudut lain, para petugas dan relawan pemadam kebakaran terus berjibaku di lapangan. Kendati demikian, karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah membuat api mudah kembali menyala saat tertiup angin kencang.
Ramadhan Noverian Belmin, relawan dari BPK Hiu Putih, menyampaikan bahwa karhutla tahun ini jauh lebih parah ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Selain medan yang sulit dijangkau, kendala utama relawan terletak pada keterbatasan pasokan bahan bakar untuk mesin pompa air.
“Jatah bensin harian sering kali habis untuk operasional tiga jam saja. Kalau api belum padam, kami terpaksa menggunakan uang pribadi untuk membeli BBM tambahan agar pemadaman bisa berlanjut,” kata Ramadhan.
Upaya pemadaman dari udara (water bombing) serta teknologi modifikasi cuaca juga menemui jalan buntu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa helikopter pemadam sulit beroperasi akibat jarak pandang yang sangat minim, sementara potensi awan hujan untuk disemai tercatat sangat rendah.
Kasus ISPA Melonjak dan Ratusan Penerbangan Dibatalkan
Dampak kesehatan akibat bencana karhutla ini tercatat sangat masif. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di daerah terdampak karhutla mencapai lebih dari 174 ribu kasus sepanjang Agustus hingga September, dengan puluhan ribu korban di antaranya merupakan balita.
Sektor pendidikan pun tak luput dari dampak buruk ini. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan di wilayah Kalimantan Tengah menghadapi kendala serius, terutama di kawasan pelosok yang minim sinyal internet dan pasokan listrik.
Sektor transportasi udara turut lumpuh. Kementerian Perhubungan mencatat sedikitnya 409 penerbangan di wilayah Kalimantan terdampak akibat penurunan jarak pandang ekstrem di beberapa bandara utama, seperti Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya dan Bandara A.P.T. Pranoto Samarinda. Mayoritas penerbangan mengalami pembatalan, keterlambatan, hingga pengalihan rute.
Di tengah kepungan bencana yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, warga terdampak kini hanya memiliki satu harapan dasar yang mendesak: pulihnya kualitas udara bersih agar kehidupan dapat kembali berjalan normal.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post