LOMBOK TENGAH – Suasana kegelisahan menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Wannafahat yang berlokasi di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Menyusul terungkapnya kasus dugaan kekerasan seksual yang menyeret pimpinan pesantren, pimpinan ponpes mengambil kebijakan untuk meliburkan sementara seluruh aktivitas kegiatan belajar mengajar.
Keputusan penutupan sementara ini memicu reaksi cepat dari para wali santri. Pada Selasa (22/9), sejumlah orang tua berbondong-bondong mendatangi area pesantren untuk menjemput anak-anak mereka. Kekhawatiran mendalam atas keselamatan dan masa depan anak menjadi alasan utama di balik langkah tegas sebagian wali santri yang memilih menarik sepenuhnya anak mereka dari lembaga pendidikan tersebut.
Kegiatan Pesantren Diliburkan Sementara
Pengurus Komite Pondok, Sahfan, mengonfirmasi bahwa aktivitas pembelajaran di ponpes dihentikan sementara hingga Kamis, 24 September. Langkah ini diambil karena kondisi di lingkungan pesantren dinilai sudah tidak kondusif pasca-mencuatnya isu dugaan pelecehan seksual.
Sahfan menjelaskan, pesantren tersebut menampung sekitar 800 santri putra dan putri yang berasal dari berbagai daerah di NTB hingga Kalimantan. Menurutnya, situasi psikologis yang berkembang saat ini tidak memungkinkan proses belajar mengajar berjalan secara efektif.
Terkait dugaan kekerasan seksual yang melibatkan pimpinan ponpes, Sahfan memilih tidak memberikan tanggapan secara substantif. Pihak pengurus komite, lanjutnya, hanya fokus meredam gejolak dan mengamankan situasi di lapangan sembari menunggu perkembangan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Khawatir Keselamatan, Wali Santri Pilih Pindahkan Anak
Proses penjemputan santri berlangsung sejak Selasa pagi. Para wali santri datang menggunakan sepeda motor hingga kendaraan bak terbuka. Suasana di dalam kompleks pesantren berangsur sepi, menyisakan beberapa santri luar daerah yang masih menunggu jemputan keluarga.
Keputusan meliburkan pesantren ternyata dimanfaatkan oleh sebagian wali santri untuk memindahkan anak mereka secara permanen. Salah seorang wali santri asal Lombok Timur, Hirnawati, menegaskan tidak akan mengembalikan kedua anaknya—yang duduk di tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah—ke pesantren tersebut.
Rasa cemas serupa diungkapkan Munzir, wali santri lainnya. Meski putranya telah menginjak masa akhir pendidikan di tingkat madrasah aliyah, ia tetap memilih membawa anaknya pulang demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dikenal Tertutup oleh Warga Sekitar
Keberadaan Ponpes Abul Wannafahat ternyata memiliki dinamika tersendiri di mata warga lokal. Beberapa warga yang bermukim di sekitar pesantren menilai lembaga pendidikan tersebut cenderung tertutup dan minim interaksi dengan lingkungan sekitar.
Warga mengungkapkan bahwa pimpinan ponpes jarang bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Selain itu, aturan internal pesantren juga sangat ketat, seperti melarang santri berbelanja di luar area kompleks dan menolak pedagang luar untuk berjualan di dalam lingkungan pesantren.
Polisi Prioritaskan Penanganan Kasus dan Tambahan Alat Bukti
Proses hukum terkait kasus kekerasan seksual ini terus berjalan. Pusat Bantuan Hukum (PBH) Universitas Mataram (Unram) selaku pendamping korban telah menyerahkan serangkaian alat bukti tambahan ke Polres Lombok Tengah pada Selasa (22/9).
Perwakilan PBH Unram, Joko Jumadi, mengungkapkan bahwa laporan awal kasus ini sebenarnya telah dimasukkan sejak Februari 2025 dengan satu orang korban. Namun, prosesnya sempat terkendala karena minimnya alat bukti pendukung.
Kini, tim pendamping menyodorkan bukti-bukti baru yang dinilai lebih kuat, termasuk rekaman pengakuan dari terduga pelaku yang berinisial AIS (atau yang akrab disapa Abah) serta rekaman dari pihak keluarga. Indikasi awal menunjukkan adanya sedikitnya lima orang yang menjadi korban, di mana beberapa di antaranya saat ini berada di luar negeri.
Menanggapi hal tersebut, Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaen, menegaskan bahwa kepolisian menjadikan penanganan perkara ini sebagai prioritas utama. Polisi berjanji akan mengusut tuntas serta memberikan perlindungan penuh bagi para korban maupun saksi yang ingin memberikan keterangan.
Mengenai keberadaan terduga pelaku yang saat ini dilaporkan sedang berada di luar area pesantren, pihak kepolisian memastikan situasi tetap dalam pemantauan dan siap melakukan tindakan hukum sesuai prosedur yang berlaku.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post