Penyediaan fasilitas pengasuhan anak yang didukung oleh tempat kerja atau Employer-Supported Childcare (ESC) kini menjadi isu strategis dalam mendorong produktivitas industri dan retensi tenaga kerja nasional. Langkah ini dinilai efektif untuk memperkecil jurang kesenjangan partisipasi angkatan kerja berbasis gender serta menciptakan ekosistem bisnis yang lebih inklusif.
Inisiatif tersebut mengemuka dalam dialog kebijakan bertajuk Policy Dialogue on Employer-Supported Childcare (ESC): From Employer Experience to Care Policy and Action yang diselenggarakan oleh Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE). Forum yang mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, pelaku usaha, dan mitra pembangunan ini digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Perawatan dan Dukungan Internasional.
Kesenjangan Gender dan Tantangan Produktivitas Nasional
Hingga saat ini, keterbatasan akses terhadap layanan pengasuhan anak yang aman, berkualitas, dan terjangkau masih menjadi tantangan utama bagi efisiensi dunia kerja. Beban pengasuhan ganda yang sebagian besar ditanggung oleh pekerja perempuan terbukti membatasi ruang gerak mereka untuk berpartisipasi secara optimal dalam perekonomian.
Data menunjukkan adanya disparitas yang cukup tajam pada struktur ketenagakerjaan di Indonesia. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan saat ini masih tertahan di kisaran 56%, jauh tertinggal dibandingkan TPAK laki-laki yang telah mencapai 84%. Kesenjangan ini mencerminkan adanya potensi ekonomi yang belum tergarap maksimal akibat belum optimalnya sistem pendukung pengasuhan anak bagi para pekerja.
Sinergi Sektor Swasta dan Regulasi Pemerintah
Pemerintah menegaskan bahwa urusan pengasuhan anak tidak lagi dapat dipandang semata sebagai urusan domestik atau keluarga, melainkan investasi sosial yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, menyatakan pentingnya sinergi antara regulasi publik dan kebijakan internal korporasi.
Partisipasi ekonomi perempuan sangat bergantung pada ketersediaan ekosistem kerja yang ramah keluarga. Melalui penerapan konsep ESC, korporasi dapat mengambil peran aktif dengan menyediakan fasilitas penitipan anak (daycare) yang memadai di lingkungan kerja, menjalin kemitraan dengan penyedia layanan profesional, hingga menerapkan skema jam kerja fleksibel yang adaptif terhadap kebutuhan pengasuhan.
Dampak Ekonomi dan Keberlanjutan Tenaga Kerja
Penerapan kebijakan pendukung pengasuhan oleh pemberi kerja tidak hanya memberikan manfaat emosional dan finansial bagi para pekerja, tetapi juga memberikan return on investment (ROI) yang positif bagi keberlanjutan bisnis korporasi. Ketersediaan fasilitas ini terbukti dapat menurunkan tingkat turnover karyawan, mengurangi angka absensi, serta meningkatkan fokus dan produktivitas kerja.
Melalui penguatan kolaborasi antara korporasi dan pemerintah dalam menciptakan regulasi yang mendukung, pengadopsian praktik ESC diharapkan dapat menjadi standar baru dalam manajemen sumber daya manusia di Indonesia. Langkah ini diyakini mampu mempercepat pemerataan kesempatan kerja sekaligus meningkatkan daya saing industri secara berkelanjutan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post