MALANG TODAY – Dikenal berpengalaman mengoperasikan ajang olahraga internasional berskala besar, Jepang kali ini harus menghadapi kritik tajam. Penyelenggaraan Asian Games 2026 di Nagoya dan Prefektur Aichi diwarnai serangkaian kekacauan operasional, mulai dari masalah akomodasi, gangguan transportasi, hingga insiden kekeliruan protokol diplomatik.
Gelombang keluhan mendominasi ruang publik dan media sosial, hingga memicu desakan penyelidikan menyeluruh. Sejumlah pengamat olahraga menilai rentetan masalah ini berpotensi mengikis kepercayaan dunia terhadap kemampuan Jepang sebagai tuan rumah kompetisi olahraga internasional di masa depan.
Krisis Akomodasi dan Rentetan Insiden Lapangan
Kekacauan sudah terdeteksi sebelum kompetisi dimulai. Demi menekan anggaran, panitia memutuskan tidak membangun perkampungan atlet konvensional. Sebagai gantinya, peserta ditempatkan di hotel-hotel terpisah dan unit hunian berbasis kontainer.
Fasilitas tersebut dikeluhkan tidak memadai. Salah satu perwakilan federasi bola basket Korea Selatan mengungkapkan para atlet bertubuh tinggi kesulitan tidur karena ukuran tempat tidur yang terlampau sempit. Tekanan akomodasi semakin parah akibat lonjakan peserta pada menit-menit akhir dari 15.000 menjadi 17.000 orang. Panitia bahkan harus menyewa kapal pesiar asal Italia dengan 1.500 kabin untuk menutupi kekurangan kamar.
Masalah berlanjut ke area operasional selama kompetisi berlangsung. Beberapa rombongan atlet dilaporkan salah diantar bus ke venue pertandingan. Tak hanya itu, kekeliruan protokol diplomatik juga terjadi saat lagu kebangsaan Korea Utara diputar untuk tim hoki putra Korea Selatan, serta kesalahan pengibaran bendera saat upacara penyerahan medali emas sepak bola putra.
Menanggapi rentetan insiden ini, Wakil Direktur Jenderal Asian Games, Takaaki Omi, menyampaikan permohonan maaf dan mengakui bahwa mengelola ajang berskala besar menjadi tantangan berat bagi panitia.
Sorotan pada Pihak Ketiga dan Efisiensi Anggaran
Sorotan publik juga tertuju pada GL Events, perusahaan pengelola venue asal Prancis yang memenangkan tender senilai 63 miliar yen (sekitar Rp6,7 triliun). Perusahaan ini terpilih setelah penawar lain tersingkir akibat kasus hukum.
Media lokal menuding adanya strategi pemangkasan biaya yang terlalu agresif, sehingga memicu kekurangan staf berpengalaman dan minimnya pelatihan bagi pekerja di lapangan. Meski demikian, pihak panitia dan pengamat independen menegaskan bahwa luasnya cakupan tanggung jawab serta mekanisme pengawasan kontrak juga perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Evaluasi Perjalanan dan Perolehan Kontingen Indonesia
Meski diwarnai kendala teknis, Dewan Olimpiade Asia mencatat adanya 54 rekor dunia baru yang tercipta di cabang olahraga renang, angkat besi, dan menembak, yang dinilai menunjukkan bahwa kompetisi tetap berjalan kompetitif di tingkat atlet.
Sementara itu, kontingen Indonesia menutup perhelatan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan menempati peringkat ke-16 dari 46 negara peserta. Tim Merah Putih mengumpulkan total 39 medali, yang terdiri dari 5 medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu.
Sumbangan medali emas Indonesia diraih melalui cabang olahraga bulu tangkis beregu putra, ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, atlet angkat besi Rahmat Erwin Abdullah, atlet panjat tebing Desak Made Rita Kusuma Dewi, serta atlet panahan Nurisa Dian Ashrifah.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post