Menjelajahi dekade keduanya, Oslo Runway kian mengukuhkan posisinya sebagai panggung mode paling menawan di kawasan Nordik. Lebih dari sekadar ajang peragaan busana, gelaran mode bergengsi di Norwegia ini hadir membawa misi besar: memperkuat fondasi industri fesyen domestik sekaligus mengepakkan sayap ke ranah internasional. Di tengah dinamika industri global yang kerap mengejar kepuasan serba instan, platform ini justru tampil konsisten mempertahankan estetikanya yang berakar kuat pada karakter alam, fungsionalitas, serta komitmen jangka panjang.
Empat Pilar Strategi Membangun Ekosistem Mode
Chief Executive Officer Oslo Runway, Elin O. Carlsen, mengungkapkan bahwa pergerakan platform ini didasari oleh empat pilar utama. Pilar pertama adalah panggung runway itu sendiri sebagai manifestasi budaya. Bagi para perancang Norwegia, memperagakan karya di tanah air adalah momen krusial untuk mempresentasikan identitas budaya dan asal-usul inspirasi mereka. Busana yang dihadirkan tidak hanya menonjolkan siluet yang memikat, tetapi juga sangat fungsional dan relevan untuk gaya hidup sehari-hari (wearable fashion).
Pilar kedua ditandai dengan hadirnya Oslo Runway Business Summit, sebuah forum bisnis yang menghimpun sekitar 200 perwakilan label mode untuk merumuskan strategi dan ekosistem industri. Pilar ketiga berfokus pada inkubasi talenta muda melalui program pendampingan intensif dari para profesional mode, memadukan aspek kreativitas murni dengan strategi komersial.
Sementara itu, pilar keempat diwujudkan melalui bentuk apresiasi dan penghargaan industri. Dalam gelaran terbaru, perancang muda Lars Math Henrichsen berhasil menyabet penghargaan talenta pendatang baru (Talent Award by Steen & Strøm). Gelar Brand of the Year diraih oleh AKS Label, sedangkan pendiri label Livid, Jens Olav Dankertsen, dianugerahi penghargaan Person of the Year.
Esensi Identitas Nordik di Atas Panggung Spektakuler
Menampilkan sekitar 60 label mode—dengan 30 jenama masuk dalam kalender resmi—Oslo Runway sukses menyulap landscape dramatis Norwegia menjadi panggung eksperimentasi gaya. Esensi pemandangan alam, fjord, arsitektur kontemporer, hingga suasana dingin ber salju diterjemahkan secara puitis melalui pemilihan lokasi peragaan busana yang tidak biasa.
Salah satu momen paling ikonis berlangsung di museum Kistefos, sebuah kawasan seni yang menampung bangunan arsitektural futuristik The Twist karya arsitek Bjarke Ingels. Di lokasi nan megah ini, label papan atas Envelope1976 meluncurkan koleksi terbarunya. Didirikan oleh Celine Aagaard, label ini konsisten mengusung estetika minimalis Nordik dengan potongan yang anggun tanpa terkesan berlebihan (effortless).
Untuk musim mendatang, Envelope1976 banyak mengeksplorasi siluet oversized, blazer dress berpotongan tajam berbahan wol halus, serta permainan material mewah seperti sutra dan kulit. Label yang mengedepankan prinsip keberlanjutan ini juga mengumumkan ekspansi pasarnya ke ritel prestisius dunia, seperti department store Printemps di Paris serta pasar ritel utama di Jepang.
Atmosfer berbeda namun tak kalah memukau hadir di SNØ, sebuah arena ski dalam ruangan. Label pakaian olahraga dan busana dingin Kari Traa memanfaatkan lintasan es ini sebagai panggung peragaan. Para model meluncur anggun di atas perosotan berjalan (conveyor belt) mengenakan koleksi eksperimental bernuansa warna tajam, memperagakan busana langsung di lanskap salju yang menjadi habitat aslinya.
Sentuhan Ritel Lokal dan Pendekatan Komunitas
Selain lokasi berarsitektur dramatis, deretan busana siap pakai (ready-to-wear) juga dipamerkan di sudut-sudut kota Oslo yang autentik. Label One and Other memilih apartemen bergaya klasik dengan lantai kayu dan langit-langit tinggi untuk memamerkan koleksi penjahitan halus (tailoring), gaun kimono bahan satin, serta jaket kulit berpalet netral dengan sentuhan biru muda dan hijau zamrud.
Sementara itu, AKS Label memikat para pencinta garis rancang terstruktur saat memamerkan koleksinya di Museum Arsitektur Nasional. Pendekatan unik juga dihadirkan oleh label ESP besutan perancang Elisabeth Stray Pedersen. Mengambil latar di kawasan Stensparken, ESP memperagakan busananya dalam konsep selebrasi kehidupan sehari-hari, melibatkan parade sosok-sosok kreatif lokal dengan berbagai latar belakang gaya hidup.
ESP menyoroti pentingnya keterikatan dengan komunitas lokal melalui konsep studio-toko yang memproduksi busana secara terbatas (made-to-order) serta menyediakan layanan perbaikan busana untuk memperpanjang usia pakai pakaian.
Transparansi dan Visi Masa Depan
Keberagaman format juga terlihat pada presentasi label Livid. Mengusung transparansi sejak tahun 2016, sang pendiri, Jens Olav Dankertsen, mengkritisi penggunaan istilah ‘ramah lingkungan’ yang kerap sekadar menjadi jargon pemasaran. Livid lebih memilih berfokus pada kualitas material, ketahanan produk, serta penyediaan layanan perbaikan gratis agar pakaian tidak terbuang sia-sia.
Melalui sinergi bersama lembaga pemerintah dan kawasan ritel mewah seperti Promenaden serta department store bersejarah Steen & Strøm, Oslo Runway terus memperluas jaringan pembeli (buyers) dan agen internasional dari berbagai negara seperti Kanada, Inggris, Jerman, hingga Korea Selatan.
Langkah konsisten Oslo Runway membuktikan bahwa industri fesyen tidak melulu soal tren yang berganti cepat, melainkan tentang bagaimana membangun identitas budaya yang kuat, merawat komunitas lokal, serta melangkah mantap menuju panggung dunia dengan estetika yang bermakna.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post