JAKARTA — Raksasa emiten alat berat dan kontraktor pertambangan Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), kian gencar memacu transformasi bisnisnya menuju sektor Energi Baru Terbarukan (EBT). Strategi ini diambil untuk menyeimbangkan portofolio keuangan perusahaan agar tidak melulu bergantung pada siklus komoditas batu bara dan aktivitas pertambangan yang fluktuatif, sekaligus mengejar target 50% pendapatan dari sektor non-batu bara pada tahun 2030.
Memutus Ketergantungan Siklus Komoditas
Langkah diversifikasi ini bukan berarti membuat UNTR serta-merta meninggalkan bisnis batu bara secara mendadak. Manajemen perseroan menegaskan bahwa batu bara masih memainkan peran vital dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional saat ini. Kendati demikian, penciptaan mesin pertumbuhan baru menjadi sebuah keharusan demi keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Direktur Human Capital & Sustainability United Tractors, Ari Sutrisno, mengungkapkan bahwa perseroan berupaya mengimbangi ketergantungan pada energi fosil dengan masuk ke lini mineral strategis dan energi bersih. Berbeda dari sektor pertambangan yang riskan terpengaruh volatilitas harga pasar, regulasi RKAB, dan kuota produksi, bisnis EBT menawarkan arus kas yang berulang (recurring income) melalui kontrak penjualan listrik jangka panjang (Power Purchase Agreement/PPA) dengan penyedia listrik negara.
Ekspansi Agresif Lewat Anak Usaha dan ARKO
Garda depan transformasi energi bersih UNTR ditopang oleh anak usahanya, PT Energia Prima Nusantara (EPN), serta investasi strategis pada emiten pembangkit EBT, PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). Lewat kolaborasi ini, perseroan menggarap portofolio multisektor mulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), panas bumi (geothermal), hingga proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy).
Kinerja finansial ARKO terbukti tumbuh signifikan. Pada 2025, ARKO membukukan pendapatan sebesar Rp343,3 miliar (tumbuh 43,7% YoY) dan laba bersih Rp63,9 miliar (melonjak 52,9% YoY). Hingga Agustus 2026, kapasitas terkontrak ARKO mencapai 118,1 MW, yang mencakup enam proyek PLTA sebesar 62,8 MW dan lima proyek PLTS sebesar 55,3 MWp.
Salah satu pencapaian operasional terbaru adalah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Kukusan 2 berkapasitas 5,4 MW yang telah beroperasi secara komersial (COD) sejak Februari 2026. Pembangkit ini langsung memasok listrik ke PT PLN (Persero) dan memberikan arus kas rutin. Ke depan, ARKO masih mengantongi pipeline proyek energi hijau yang melebihi 300 MW.
Terobosan Baterai Storage dan Energi Panas Bumi
Arah ekspansi EBT perseroan juga makin canggih. Melalui akuisisi 99,9% saham PT Endorshine Energy Solutions dan skema operational lease di wilayah Batam serta Bintan, ARKO kini mengelola portofolio PLTS dengan total kapasitas tambahan hingga 55,3 MWp. Tak hanya panel surya, tiga proyek di antaranya telah terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 28,3 MWh.
Direktur ARKO, Ricky Hartono, menjelaskan bahwa integrasi BESS merupakan standar baru perseroan untuk memberikan nilai tambah bagi mitra industri. Bagi UNTR, model ini membuka peluang memasok solusi energi terintegrasi untuk kawasan industri berskala besar.
Selain air dan surya, UNTR mengamankan aset panas bumi melalui kepemilikan di Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) berkapasitas 91,2 MW. Meski sektor geothermal menawarkan pasokan listrik yang stabil (baseload), sektor ini membutuhkan biaya modal berisiko tinggi. Pada semester I-2026, UNTR mencatat beban non-recurring items sekitar Rp3,3 triliun terkait penyesuaian nilai (impairment) aset geothermal, yang menjadi catatan pentingnya efisiensi dan manajemen risiko ketat.
Diversifikasi Sampah Menjadi Energi
Portofolio hijau UNTR kian lengkap melalui penggarapan proyek Waste-to-Energy (WtE) Legok Nangka di Jawa Barat berkapasitas 40 MW. Melalui EPN, UNTR bergabung dalam konsorsium PT Jabar Environmental Solutions bersama Sumitomo Corporation dan Kanadevia Corporation. Proyek yang ditargetkan beroperasi komersial pada 2029 ini mendapat kucuran pinjaman pembiayaan sebesar US$10 juta dari UNTR pada Maret 2026.
Corporate Secretary United Tractors, Ari Setiawan, menyatakan bahwa keberadaan WtE memegang peranan strategis karena tidak hanya menghasilkan daya listrik, melainkan juga memberikan solusi atas tantangan pengelolaan limbah perkotaan.
Urgensi Menatap Target Tahun 2030
Kebutuhan diversifikasi bisnis UNTR kian terdesak seiring tekanan pada industri pertambangan. Pada semester I-2026, pendapatan bersih UNTR terkoreksi sekitar 15% secara tahunan menjadi Rp58,3 triliun. Kendati segmen kontraktor pertambangan masih menyumbang pendapatan dominan sebesar Rp32,97 triliun, fluktuasi harga komoditas memicu urgensi untuk mempercepat kontribusi lini non-batu bara.
Melalui Sustainability Report, UNTR memasang target besar agar 50% pendapatan perseroan berasal dari lini non-batu bara pada tahun 2030. Porsi ini nantinya akan diisi oleh komoditas mineral strategis seperti emas dan nikel, jasa konstruksi, serta lini energi baru terbarukan. Dengan portofolio EBT yang kian matang dan deretan pembangkit yang mulai beroperasi komersial, UNTR optimis mampu membangun fondasi “mesin cuan” baru yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post