Pemerintah Indonesia kembali mempertegas komitmen hilirisasi sektor energi dengan merencanakan pembangunan kawasan industri pengolahan petrokimia berbasis gas di Kalimantan Timur. Langkah strategis ini diambil guna mengoptimalkan nilai tambah dari gelombang penemuan cadangan gas baru di wilayah tersebut, sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi daerah melalui pembukaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proyek ini akan memanfaatkan gas alam sebagai bahan baku utama (feedstock) untuk memproduksi komoditas petrokimia bernilai tinggi. Integrasi antara melimpahnya pasokan gas mentah dan sektor manufaktur pengolahan di dalam negeri dinilai menjadi kunci utama transformasi ekonomi nasional.
“Kami akan membangun pusat pengolahan petrokimia di Kalimantan Timur dengan memanfaatkan gas sebagai bahan baku,” ujar Bahlil saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas unit produksi terapung (Floating Production Unit/FPU) Jangkrik, yang beroperasi sekitar 12 mil dari lepas pantai Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pemerataan Ekonomi dan Nilai Tambah Daerah
Menurut Bahlil, keputusan menempatkan pusat industri petrokimia di luar Pulau Jawa merupakan bagian dari kebijakan strategis pemerintah untuk memastikan daerah penghasil dapat menikmati manfaat ekonomi secara langsung dari kekayaan alam mereka. Selama ini, sebagian besar nilai tambah hasil bumi kerap mengalir ke luar wilayah produksi.
“Pilihan ini kami ambil untuk memastikan daerah di luar Jawa juga mendapatkan bagian yang adil dari potensi sumber daya alam mereka sendiri,” kata Bahlil. Ia menekankan bahwa industrialisasi sektor hulu hingga hilir harus mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal, serta menyumbang secara signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Petrokimia merupakan industri dasar yang sangat krusial. Produk turunannya digunakan sebagai bahan baku berbagai sektor manufaktur penting, mulai dari plastik, serat sintetis, hingga beragam bahan kimia untuk kebutuhan industri skala besar. Dengan mengolah gas alam menjadi produk petrokimia di dalam negeri, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku industri diharapkan dapat ditekan secara drastis.
Suntikan Pasokan Ekstraksi Lepas Pantai
Rencana pembangunan hub petrokimia ini didukung oleh progres signifikan dalam aktivitas eksplorasi migas di lepas pantai Kalimantan Timur. Raksasa energi asal Italia, Eni, bersama Searah—perusahaan konsorsium dengan kepemilikan 50-50 antara Eni dan perusahaan migas milik negara Malaysia, PETRONAS—saat ini terus menggenjot pencarian cadangan minyak dan gas baru di blok tersebut.
Penguatan pasokan gas kawasan ini makin terjamin seiring mulainya pengoperasian dua sumur gas baru, yakni Jangkrik North East-6 dan Maha. Pemerintah memproyeksikan beroperasinya kedua sumur tersebut berpotensi mendongkrak kapasitas produksi gas hingga mencapai 750 juta kaki kubik per hari (MMscfd).
Meskipun cetak biru pasokan gas telah siap, pemerintah sejauh ini belum membeberkan rincian mengenai nilai investasi, kapasitas produksi terpasang, maupun target tenggat waktu dimulainya konstruksi fisik proyek hub petrokimia tersebut.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post