Kebijakan imigrasi ketat yang diterapkan oleh Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menuai gelombang kekecewaan mendalam dari komunitas Latino. Janji kampanye yang semula memikat sebagian pemilih keturunan Amerika Latin pada Pemilu Presiden 2024 kini berbalik menjadi atmosfer ketakutan akibat intensifikasi operasi deportasi secara masif. Kondisi ini berpotensi memicu peralihan suara signifikan menjelang Pemilu Paruh Waktu (midterm elections).
Dampak Ekonomi dan Rasa Takut di Komunitas “Doralzuela”
Tekanan penegakan hukum imigrasi terasa sangat intensif di kawasan Doral, Florida Selatan. Wilayah yang dikenal sebagai “Doralzuela” karena mayoritas populasinya merupakan imigran asal Venezuela ini mengindikasikan kelumpuhan aktivitas sosial dan ekonomi lokal. Isu mengenai penggerebekan dan razia petugas imigrasi menyebar cepat melalui pesan singkat antartetangga, memaksa banyak warga memilih berdiam diri di dalam rumah.
Kondisi psikologis ketakutan tersebut berimbas langsung pada sektor usaha kecil. Maria Fernanda Perez, seorang pemilik restoran di Doral, mengungkapkan bahwa penjualan usahanya merosot drastis hingga 40 persen. Penurunan omzet tersebut terjadi akibat keengganan warga beraktivitas di luar rumah serta hengkangnya sejumlah pekerja yang takut ditindak oleh otoritas imigrasi.
“Saya merasa sedih dan kecewa. Seluruh keluarga dan teman saya sedang menjalani proses imigrasi. Mereka tidak lagi bekerja dan tidak dapat menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa,” ujar Perez, yang mengaku sempat menitipkan harapan ekonomi pada pemerintahan Trump pada Pemilu 2024 lalu.
Kritik Internal dan Pergeseran Konstelasi Politik
Eskalasi penindakan imigrasi ini juga memicu resistensi dari internal Partai Republik sendiri. Sejumlah politisi dan figur publik berlatar belakang Republikan menilai implementasi kebijakan di lapangan telah menyimpang dari narasi awal kampanye yang hanya menargetkan pelaku kejahatan berat.
Carlos Bermudez, seorang pengacara keturunan Venezuela berhaluan Republikan, menggarisbawahi hadirnya tekanan mental berkepanjangan pada warga yang tengah mengurus izin tinggal legal. Sementara itu, anggota Dewan Kota Doral dari Partai Republik, Rafael Pineyro, memperingatkan bahwa pendekatan keras ini berisiko merusak basis dukungan konsisten dari pemilih asal Kuba dan Venezuela di Florida.
“Bukan seperti ini yang dijanjikan pada 2024 ketika kita berbicara tentang deportasi penjahat. Kesempatan mempertahankan dukungan itu semakin hilang akibat keputusan yang buruk, khususnya terkait isu ekonomi dan imigrasi,” tegas Pineyro.
Sinyal Anjloknya Elektabilitas di Kalangan Hispanik
Meskipun Trump kembali menegaskan komitmennya untuk melanjutkan operasi deportasi skala besar dengan sasaran utama penjahat kelas berat, kecenderungan ketidakpuasan publik tetap meluas. Berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh The New York Times bersama Siena College, sebanyak 66 persen responden Hispanik menyatakan tidak puas terhadap kinerja kepemimpinan Trump.
Riset tersebut juga mencatat 78 persen responden dari kelompok demografi tersebut lebih memprioritaskan kontrol Partai Demokrat di Kongres AS. Penurunan kepercayaan dari komunitas Latino ini diproyeksikan bakal menjadi tantangan politis yang serius bagi soliditas dukungan Partai Republik dalam menghadapi agenda politik nasional mendatang.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post