MALANG TODAY – Wabah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra menelan korban jiwa dari kelompok rentan. Puluhan ribu anak kini dilaporkan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Para pakar kesehatan menilai krisis kesehatan yang memburuk ini sudah masuk dalam kategori kedaruratan kesehatan masyarakat.
Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya 62.400 balita usia 0–5 tahun mengalami ISPA di tujuh provinsi terdampak. Angka tersebut diperkirakan hanya fenomena gunung es karena banyak kasus yang belum tercatat maupun terdiagnosis di lapangan.
Dua Balita Meninggal Usai Terpapar Kabut Asap
Dampak mematikan paparan asap dirasakan langsung oleh keluarga korban. Di Samarinda, Kalimantan Timur, seorang balita berusia 14 bulan bernama Yazlyn Syanindita (Canin) meninggal dunia setelah mengalami sesak napas berat saat kabut asap mengepung kawasan pemukimannya.
Cindy, ibu korban, menceritakan bahwa kondisi kesehatan anaknya menurun drastis seiring menebalnya asap karhutla di Kecamatan Palaran, Samarinda. Meski sempat mendapat perawatan medis, nyawa balita tersebut tidak tertolong.
“Pemerintah jangan sepelekan asap karhutla. Jangan bilang kondisi asap tidak parah, banyak yang kena ISPA. Kemarin di ruang inap ada tiga balita semua sesak napas,” ujar Cindy membagikan duka mendalamnya.
Kisah serupa terjadi di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Anya Shezan Banafsya, bocah berusia enam tahun, meninggal dunia akibat gagal napas atau Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang disertai syok sepsis setelah menjalani perawatan intensif selama enam hari di rumah sakit.
Pakar Sebut Situasi Sudah Masuk Kedaruratan Kesehatan
Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, menegaskan bahwa lonjakan kasus ISPA pada anak di wilayah terdampak karhutla telah masuk fase darurat. Situasi ini dinilai mengancam keselamatan populasi dalam skala luas.
“Kasus ISPA ini seperti fenomena gunung es, angkanya kemungkinan sudah mencapai ratusan ribu. Dampaknya meluas di dua pulau besar, Kalimantan dan Sumatra,” kata Hermawan.
Ia mendesak pemerintah dan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat penanganan medis darurat di tingkat Puskesmas, termasuk menjamin ketersediaan tabung oksigen, masker, sarana medis, serta mempercepat proses rujukan pasien kritis tanpa terhambat hambatan administratif.
Kemenkes Imbau Warga Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
Data Kementerian Kesehatan per 12 Oktober mencatat total 277.075 kasus ISPA akibat karhutla di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi. Sebanyak 22,5 persen atau sekitar 62.400 korban di antaranya merupakan anak-anak usia balita.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, untuk membatasi aktivitas di luar rumah guna menghindari paparan polusi udara berlebih.
“Jika kondisi udara memburuk, usahakan tetap berada di dalam rumah. Jika terpaksa keluar, wajib menggunakan masker yang sesuai, kacamata pelindung, serta segera membersihkan diri setelah beraktivitas,” imbau Menkes.
Bahaya Partikel PM2.5 Bagi Tubuh Anak
Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirasi, Fifi Sofiah, menjelaskan bahwa asap karhutla membawa partikel mikroskopis berbahaya seperti PM2.5. Partikel berukuran amat kecil ini dapat menembus saluran pernapasan paling dalam hingga masuk ke aliran darah.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan polutan ini karena laju pernapasan mereka yang lebih cepat dibanding orang dewasa, sementara sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk sempurna.
Untuk melindungi anak dari bahaya kabut asap, para ahli kesehatan menyarankan orang tua untuk memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), menutup akses udara kotor ke dalam rumah, menggunakan pemurni udara (air purifier), serta menyederhanakan proses belajar mengajar melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) jika kondisi udara masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post