MALANG TODAY – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi. Mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 18 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp17.918 per dolar AS, bergerak turun dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.900 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dampak Ketegangan Geopolitik terhadap Harga Minyak
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan potensi pelemahan terbatas. Kenaikan harga minyak mentah global menjadi faktor utama yang memberatkan laju mata uang berkembang, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh insiden serangan yang menimpa fasilitas administrasi perusahaan minyak Saudi Aramco di Dhahran, Arab Saudi. Kendati tim tanggap darurat setempat telah mengatasi kebakaran yang timbul dan memastikan tidak ada korban jiwa, kejadian ini langsung memicu kekhawatiran pasokan di pasar global.
Imbas dari insiden tersebut, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November melonjak 1,89 dolar AS atau 2,06 persen ke level 93,74 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turut menguat 1,93 dolar AS atau 1,84 persen menjadi 106,65 dolar AS per barel.
Sinyal The Fed dan Sikap Investor
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah sedikit tertahan berkat adanya koreksi pada indeks dolar AS dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury). Penurunan ini dipengaruhi oleh pernyataan yang cenderung lunak (dovish) dari pejabat Bank Sentral AS (The Fed), John C. Williams.
Williams mengisyaratkan hanya melihat potensi satu kali lagi kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini, dan menilai tidak ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut hingga beberapa tahun ke depan.
Selain mencermati pergerakan harga minyak dan sinyal suku bunga, para pelaku pasar saat ini memilih mengambil sikap menanti (wait and see) menjelang rilis data inflasi AS. Inflasi inti AS diproyeksikan mengalami kenaikan tipis dari 2,4 persen menjadi 2,5 persen, sementara inflasi umum diperkirakan naik dari 3,4 persen ke level 3,6 persen.
Dua faktor yang saling bertolak belakang ini diperkirakan akan menjaga pergerakan rupiah sepanjang hari di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post