MALANG TODAY – Pembangunan masif pusat data (data center) di berbagai belahan dunia kini menjadi konsekuensi nyata dari pesatnya kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Namun, di balik kemudahan akses internet yang dinikmati masyarakat global, warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek justru harus menanggung beban lingkungan yang cukup berat, mulai dari krisis air bersih hingga pencemaran lingkungan lokal.
Dampak Nyata di Pemukiman Warga
Beverly Morris, seorang pensiunan di Mansfield, Georgia, Amerika Serikat, kini harus kehilangan ketenangan masa tuanya. Hanya berjarak sekitar 360 meter dari rumahnya, kini berdiri kokoh sebuah pusat data raksasa tanpa jendela yang dipenuhi mesin server aktif. Kehadiran fasilitas milik Meta, perusahaan induk Facebook, tersebut diduga kuat telah mengganggu sistem sumur pribadi miliknya.
Akibat pembangunan tersebut, pasokan air bersih ke rumah Morris kini dipenuhi endapan tebal. Ia bahkan terpaksa mengangkut air menggunakan ember hanya untuk menyiram toilet dan harus memperbaiki instalasi pipa dapur demi mendapatkan tekanan air yang layak. Meski pihak Meta membantah tuduhan tersebut berdasarkan riset independen mereka, kekhawatiran warga lokal terhadap kelayakan air konsumsi tetap tidak terbendung.
Konsumsi Air Skala Raksasa demi Mendinginkan Server
Pusat data yang menjadi tulang punggung teknologi awan (cloud) kini berjumlah lebih dari 10.000 unit di seluruh dunia. Seiring melonjaknya penggunaan alat AI seperti ChatGPT, jumlah pusat data ini terus tumbuh secara eksponensial. Masalah utama yang muncul dari operasional ini adalah kebutuhan air yang sangat masif untuk sistem pendinginan mesin prosesor yang sangat panas.
Sebagian besar fasilitas ini menggunakan sistem pendinginan evaporatif, di mana air diserap untuk menguapkan panas. Pada hari-hari dengan suhu tinggi, satu kompleks pusat data dapat menghabiskan jutaan galon air. Sebuah studi bahkan memproyeksikan bahwa pusat data berbasis AI secara global akan mengonsumsi hingga 1,7 triliun galon air pada tahun 2027 mendatang. Sebagai gambaran, hanya untuk memproses 10 hingga 50 interaksi dengan model AI seperti GPT-3, sistem dapat menghabiskan sekitar 500 ml air bersih.
Ancaman Kerusakan Ekosistem Sungai
Georgia menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan pusat data tercepat di Amerika Serikat karena iklim lembapnya yang dinilai efisien untuk sistem pendinginan alami. Namun, aktivitas konstruksi skala besar ini mulai memicu protes dari aktivis lingkungan setempat.
Lembaga advokasi lingkungan Flint Riverkeeper melaporkan adanya indikasi pencemaran sedimen di anak sungai sekitar proyek pembangunan pusat data baru milik Quality Technology Services (QTS). Sampel air sungai yang diambil menunjukkan kondisi keruh berwarna cokelat, yang diduga kuat akibat limpasan bahan kimia flokulan pengikat tanah dari area konstruksi. Hal ini memicu penolakan lokal yang kian meluas, di mana proyek senilai puluhan miliar dolar kini mulai tertunda di berbagai negara bagian.
Komitmen Industri dan Tantangan Masa Depan
Menanggapi gelombang protes ini, sejumlah raksasa teknologi mulai merancang solusi jangka panjang. Amazon Web Services (AWS), salah satu operator pusat data terbesar di dunia, menargetkan untuk mengembalikan lebih banyak air ke komunitas lokal daripada yang mereka gunakan pada tahun 2030. Upaya yang disiapkan meliputi investasi pada sistem penampungan air hujan, pemanfaatan air limbah daur ulang, hingga perbaikan infrastruktur pipa warga.
Para akademisi menilai bahwa keberadaan pusat data tidak mungkin dihindari karena sudah menjadi pilar utama kehidupan modern. Langkah ke depan yang harus diambil adalah transisi cepat menuju sistem pendinginan yang lebih cerdas dan ramah lingkungan. Tantangan terbesar industri teknologi saat ini adalah bagaimana terus mendorong inovasi digital tanpa harus menguras sumber daya alam paling mendasar di bumi, yaitu air bersih.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post