MALANG TODAY – Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan kembali memakan korban jiwa. Seorang murid sekolah dasar (SD) kelas 2 di Pemalang, Jawa Tengah, berinisial M (7), meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan dan penganiayaan oleh kakak kelasnya sendiri. Peristiwa memilukan ini menambah daftar panjang potret buram kekerasan anak di sekolah sepanjang tahun 2026.
Keluarga korban mengungkapkan bahwa kekerasan tersebut terjadi di lingkungan sekolah saat jam istirahat. Pihak kepolisian kini tengah mendalami kasus ini dan menjadwalkan pemeriksaan terhadap para terduga pelaku yang juga masih berstatus di bawah umur.
Kronologi Tragis yang Menimpa M
Ibu korban, Diah Indrianti, menuturkan bahwa putranya yang dikenal pendiam dan mandiri tidak pernah bercerita mengenai kekerasan yang dialaminya di sekolah. Kasus ini baru terungkap ketika M mengeluhkan sakit perut hebat hingga kesulitan berjalan pada Kamis (17/09).
Saat diperiksa oleh dokter, tim medis menemukan adanya luka bekas pukulan benda tumpul di bagian perut korban. Setelah diajak bicara secara perlahan oleh keluarga dan dokter, M akhirnya mengaku bahwa dirinya telah dihadang dan dipukuli oleh tiga orang kakak kelasnya di depan aula sekolah karena menolak memberikan uang jajan (dipalak).
Terduga pelaku dilaporkan terdiri dari dua siswa kelas 5 dan satu siswa kelas 6. M sempat menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di RSUD Dr Azhari, Pemalang, akibat peradangan organ dalam. Sempat diperbolehkan pulang, kondisi kesehatan M kembali memburuk secara drastis pada Rabu (30/09) hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia saat dilarikan kembali ke rumah sakit.
Kekecewaan Keluarga Terhadap Respons Sekolah
Pihak keluarga korban menyayangkan sikap lambat dari pihak sekolah dalam merespons laporan perundungan ini saat M masih dirawat. Diah menduga ada upaya dari pihak sekolah untuk menutupi kasus tersebut, termasuk lambatnya proses klarifikasi terhadap salah satu terduga pelaku dari kelas 6.
Hingga korban mengembuskan napas terakhir, belum ada iktikad baik atau permintaan maaf dari keluarga para terduga pelaku kepada orang tua M. Kasus ini kini sepenuhnya diserahkan kepada Polres Pemalang untuk diusut secara hukum.
Respons Pemerintah dan Kepolisian
Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, telah mengunjungi rumah duka serta mendatangi sekolah korban untuk mengonfirmasi kronologi kejadian. Ia membenarkan adanya perselisihan yang berujung pada aksi pemukulan fisik terhadap korban.
Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Wildan Umar, menyatakan pihaknya telah memeriksa enam orang saksi yang terdiri dari teman korban, pihak sekolah, dan orang tua. Polisi juga melakukan autopsi pada jenazah korban untuk memastikan penyebab utama kematian.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan telah menginstruksikan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Jawa Tengah dan Dinas Pendidikan setempat untuk melakukan investigasi menyeluruh. Pemerintah berkomitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman sesuai dengan regulasi pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.
Darurat Kekerasan di Satuan Pendidikan
Kasus yang menimpa M di Pemalang hanyalah puncak gunung es dari maraknya aksi kekerasan di sekolah. Data dari Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat ada 100 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang Januari hingga September 2026, dengan jumlah korban mencapai lebih dari 1.000 anak.
Dari total kasus tersebut, kekerasan fisik menyumbang angka 36%, di mana mayoritas berbentuk pengeroyokan dan penganiayaan antarsiswa. Sepanjang tahun ini saja, sudah ada empat siswa yang meninggal dunia akibat kekerasan fisik di sekolah.
Selain di Pemalang, rentetan kasus perundungan dan kekerasan fisik serupa juga dilaporkan terjadi di berbagai daerah lain dalam beberapa bulan terakhir, termasuk di Tuban, Banyuwangi, Pematangsiantar, Tasikmalaya, Medan, Banda Aceh, Bekasi, Serpong, Padang, Kubu Raya, hingga Malang.
Mengapa Kekerasan Anak Terus Berulang?
Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti, menjelaskan bahwa perilaku kekerasan pada anak merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh konsep ‘Tri Pusat Pendidikan’, yaitu:
1. Lingkungan Keluarga (Porsi 50%): Anak yang tumbuh dalam pola asuh penuh kekerasan atau makian cenderung melampiaskan luka batinnya dengan menjadi pelaku perundungan di sekolah. Sebaliknya, anak yang diasuh dengan rasa tidak percaya diri atau terlalu tertutup sering kali menjadi target empuk para pelaku.
2. Lingkungan Sekolah (Porsi 30%): Sekolah kerap gagal menyamakan standar perilaku siswa. Faktor tekanan kelompok teman sebaya juga sangat kuat; beberapa anak memilih menjadi pelaku kekerasan hanya agar mereka tidak menjadi korban perundungan berikutnya.
3. Lingkungan Masyarakat dan Media (Porsi 20%): Paparan konten kekerasan di media sosial, gim daring, serta kurangnya perhatian dari lingkungan sekitar membuat anak-anak dengan mudah meniru tindakan agresif tanpa memahami konsekuensinya.
FSGI mendesak agar seluruh elemen, mulai dari orang tua, guru, hingga masyarakat, menerapkan pola pengasuhan dan disiplin positif demi memutus rantai kekerasan terhadap anak.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post