MALANG TODAY – Di saat mayoritas praktisi medis memilih menikmati masa pensiun di usia senja, dedikasi luar biasa justru ditunjukkan oleh dr. Suri Srimathi. Dokter spesialis kandungan asal India yang kini telah berusia 92 tahun tersebut masih aktif menjalankan profesinya, memimpin tindakan operasi bedah, hingga mengendarai mobil sendiri menuju tempatnya mengabdi.
Kiprah panjang sang dokter veteran bukan sekadar statistik. Selama lebih dari enam dekade mengabdikan diri di dunia kesehatan, Srimathi diperkirakan telah membantu proses persalinan dan kelahiran lebih dari 200.000 bayi. Sebuah rekam jejak pengabdian yang menegaskan komitmen manusianya yang tak tergoyahkan oleh waktu.
Melawan Stigma dan Pengucilan Sosial Demi Cita-cita
Perjalanan karier Srimathi menuju dunia kedokteran tidak diraih dengan mudah. Ketika ia memutuskan untuk menempuh pendidikan medis pada era 1950-an, keputusannya mendapat penolakan keras dari lingkungan sosial sekitar yang masih memegang teguh norma tradisional.
“Keluarga saya bahkan harus menghadapi pengucilan sosial. Kerabat kami berhenti berbicara dengan kami,” kenang Srimathi saat menceritakan perjuangannya di masa lalu.
Meski di bawah tekanan sosial yang berat, ia pantang menyerah. Srimathi berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran dasar pada tahun 1958. Keahliannya semakin diperdalam dengan meraih gelar spesialis di Osmania University pada Oktober 1965. Sejak saat itu, ia melakoni peran ganda yang krusial di fasilitas kesehatan tempatnya bertugas.
“Saya bertindak sebagai dokter anestesi, dokter kandungan, sekaligus dokter anak,” tutur Srimathi mengenai multifungsi perannya dalam menyelamatkan nyawa ibu dan anak.
Kedisiplinan Tinggi dan Keterampilan Bedah yang Presisi
Mencapai usia mendekati satu abad dengan kebugaran fisik yang prima tentu membutuhkan kedisiplinan hidup yang ketat. Srimathi mengungkapkan bahwa rahasia stamina dan ketajamannya terletak pada pola hidup teratur yang ia jalani setiap hari.
Ia terbiasa bangun pukul 05.30 pagi untuk melakukan latihan yoga, sebelum akhirnya menyetir mobil pribadi menuju rumah sakit atau kliniknya. Selain menjaga kesehatan fisik, Srimathi juga secara konsisten mengasah wawasan medisnya dengan rajin membaca jurnal-jurnal kedokteran terbaru agar pengetahuannya tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Keandalan Srimathi di meja operasi pun diakui oleh para sejawat dan juniornya. Mantan muridnya, dr. Rajani Kumari, mengagumi ketenangan dan presisi ketrampilan motorik sang mentor saat memegang pisau bedah.
“Tangan beliau tidak gemetar sama sekali saat mengoperasi. Kadang-kadang justru tangan kami yang bergetar, tetapi tidak dengan tangan beliau,” ungkap Rajani penuh kekaguman.
Pengabdian Kemanusiaan Tanpa Batas Usia
Kendati faktor usia kerap memicu keraguan awal dari calon pasien, kemahiran dan pendekatan penuh kasih dari Srimathi selalu berhasil mematahkan skeptisisme tersebut. Salah seorang pasiennya, Koteru Tulasi, mengaku sempat merasa ragu sebelum akhirnya menyerahkan proses penanganannya kepada sang dokter gaek.
“Melihat usianya, awalnya saya agak khawatir. Namun, ketelatenan beliau berhasil menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa tenang pada diri saya,” kata Tulasi.
Bagi Srimathi, profesi dokter bukan sekadar mata pencaharian, melainkan panggilan jiwa. Dorongan kemanusiaan yang mendalam itulah yang membuatnya enggan untuk gantung stetoskop dan pensiun dari dunia medis.
“Banyak orang datang mengetuk pintu saya untuk meminta bantuan. Itulah alasan utama mengapa saya ingin terus melakukan pekerjaan ini. Kita tidak bisa menolak untuk melayani orang-orang saat mereka membutuhkan bantuan, bukan?” pungkas Srimathi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post