Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya memulai langkah besar untuk menormalisasi Anak Sungai Krukut di kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Proyek pengerukan ini menjadi yang pertama kalinya dilakukan secara masif setelah hampir 60 tahun area tersebut tidak tersentuh pemeliharaan infrastruktur secara menyeluruh.
Transformasi Kawasan Tanpa Penggusuran
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa pengerukan sedimen hanyalah langkah awal dari rencana besar penataan kawasan. Pemerintah menargetkan revitalisasi sepanjang 2,3 kilometer aliran sungai dengan pendekatan yang lebih humanis, yakni tanpa melakukan penggusuran terhadap warga yang telah bermukim di sana selama puluhan tahun.
Pramono menyatakan bahwa pemerintah akan fokus pada penataan ruang agar kawasan tersebut menjadi lebih teratur dan layak huni. “Ini adalah penataan kawasan, bukan penggusuran. Kami akan mengorganisir wilayah ini agar lebih tertib dan tertata,” ujar Pramono saat meninjau langsung lokasi pengerukan, Senin (18/11).
Integrasi Infrastruktur dan Ruang Publik
Selain mengeruk endapan lumpur, pemerintah berencana membangun dinding penahan (retaining wall) di sepanjang sisi sungai. Tidak hanya berorientasi pada pengendalian banjir, proyek ini juga akan meningkatkan fasilitas sanitasi warga, termasuk memperbaiki sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Lebih jauh, area tersebut akan dihijaukan dan dikonversi menjadi ruang publik yang fungsional. Langkah ini diharapkan menjadi model percontohan penanganan infrastruktur di kawasan padat penduduk. Rencana detail penataan ini dijadwalkan akan dipresentasikan oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada pekan depan, dengan target pengerjaan fisik dimulai pada awal 2027. Perubahan signifikan di kawasan ini diproyeksikan mulai terlihat pada tahun 2028.
Tantangan Teknis dan Perilaku Masyarakat
Proses pengerukan saat ini menghadapi kendala geografis yang cukup menantang. Mengingat lokasi sungai berada di tengah permukiman padat dengan akses jalan yang sangat sempit, petugas terpaksa menggunakan tiga unit ekskavator laba-laba mini. Material hasil pengerukan pun tidak bisa langsung diangkut oleh truk besar, melainkan harus dipindahkan secara bertahap ke titik akses yang lebih memadai.
Namun, tantangan terbesar bagi pemerintah bukanlah sekadar teknis, melainkan keberlanjutan perilaku masyarakat. Pramono menekankan bahwa infrastruktur secanggih apa pun akan sia-sia jika budaya membuang sampah ke sungai masih terus dilakukan oleh warga setempat.
“Tidak ada gunanya kita melakukan perbaikan jika masyarakat masih memiliki kebiasaan membuang sampah ke sungai,” tegasnya. Ia pun mengimbau warga untuk turut menjaga kebersihan lingkungan agar aliran sungai tetap lancar dan risiko banjir dapat diminimalisir secara berkelanjutan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post