Efisiensi modal investasi di Indonesia tercatat mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir, namun kapasitasnya dalam menyerap tenaga kerja lokal justru menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Fenomena dikotomi ini menegaskan bahwa tantangan ekonomi nasional saat ini tidak lagi sekadar mengejar besaran nilai modal yang masuk, melainkan bagaimana memastikan aliran investasi tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat luas melalui pembukaan lapangan kerja secara inklusif.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, mengungkapkan bahwa peningkatan efisiensi modal tersebut tercermin dari penurunan rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Indikator ekonomi ini menunjukkan bahwa setiap unit modal yang ditanamkan kini mampu menghasilkan output pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.
“Investasi di Indonesia terus tumbuh positif dan semakin efisien dalam mendorong pertumbuhan ekonomi selama dua tahun terakhir, yang tecermin dari tren penurunan ICOR,” ujar David.
Penurunan Drastis Daya Serap Tenaga Kerja
Meskipun efisiensi modal membaik, David memberi catatan kritis terkait daya serap tenaga kerja yang justru melemah cukup tajam. Berdasarkan analisis historis, pada periode 2015–2019, setiap nilai investasi sebesar USD 1 juta mampu menciptakan rata-rata 26,2 lapangan kerja baru. Namun, angka penyerapan tersebut merosot drastis menjadi hanya 16,5 tenaga kerja per USD 1 juta investasi sejak kuartal keempat tahun 2024.
Pergeseran ini mengindikasikan struktur investasi yang semakin padat modal (capital-intensive) atau berbasis teknologi tinggi, sehingga memangkas kebutuhan akan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar.
Pemerintah sendiri mencatat realisasi investasi sepanjang tahun 2025 berhasil mencapai Rp 1.931,2 triliun (sekitar USD 108,3 miliar), melampaui target tahunan yang ditetapkan. Tren positif berlanjut pada semester pertama tahun 2026 dengan realisasi mencapai Rp 1.010,6 triliun, atau setara dengan 49,5 persen dari target tahunan sebesar Rp 2.041,3 triliun. Secara tahunan (year-on-year), nilai investasi pada paruh pertama 2026 ini tumbuh 7,2 persen dan berhasil menyerap 1,45 juta tenaga kerja langsung, naik 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sinyal Pemulihan dan Ketimpangan Antarsektor
Kendati sempat melemah, David melihat adanya sinyal awal pemulihan dampak investasi terhadap pembukaan lapangan kerja pada data ekonomi terkini. Pada semester pertama tahun 2026, kapasitas penyerapan tenaga kerja diperkirakan kembali meningkat ke level 25,3 tenaga kerja per USD 1 juta investasi. Angka ini mendekati rata-rata historis pra-pandemi, meski konsistensi tren pemulihan ini masih perlu diuji dalam jangka panjang.
Di sisi lain, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terakselerasi dalam dua tahun terakhir dipicu oleh kombinasi belanja sektor publik dan keterlibatan sektor swasta dalam berbagai program prioritas pemerintah. Meski demikian, penyebaran dampaknya dinilai belum merata.
Pertumbuhan ekonomi saat ini masih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu yang mendapat insentif atau dukungan langsung dari program pemerintah, seperti industri pertanian, makanan dan minuman, perdagangan, serta konstruksi.
“Sayangnya, pola pertumbuhan yang terkonsentrasi ini membuat manfaat ekspansi ekonomi belum terdistribusi secara merata ke seluruh lapisan masyarakat, khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja yang berkualitas,” pungkas David.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post